Menilik Sejarah Kelahiran Jong Islamieten Bond di Indonesia

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu tanda sejarah kelahiran Jong Islamieten Bond di Indonesia adalah diselenggarakannya kongres pertama pada tahun 1925. Kongres tersebut berlangsung pada bulan Desember di Yogyakarta dan dihadiri oleh sejumlah tokoh pergerakan nasional.
Selain kongres pertama, masih ada sejumlah fakta sejarah mengenai kelahiran Jong Islamieten Bond (JIB) di Indonesia. Beberapa contoh adalah JIB merupakan pemisahan dari Jong Java serta JIB muncul karena adanya sikap kurang aspiratif.
Sejarah Kelahiran Jong Islamieten Bond
Setiap organisasi tentu mempunyai latar belakang yang membuatnya dapat terbentuk dan berdiri, termasuk Jong Islamieten Bond. Sejarah kelahiran Jong Islamieten Bond sebagai organisasi pemuda mempunyai kisah yang panjang.
Mengutip dari buku Simpul Sejarah karya Adilaga (2017: 3), Tri Koro Dharmo atau Jong Java tidak membenarkan adanya acara diskusi tentang Islam. Namun, membenarkan jika hal yang didiskusikan agama non-Islam dan teosofi, terutama ajaran Kejawen.
Selain tindakan tersebut, Jong Java juga tidak membenarkan anggotanya untuk ikut aktif dalam gerakan politik. Padahal pada masa itu, Kebangkitan Kesadaran Nasional Indonesia sedang ramai sekali.
Realitas perilaku diskriminatif dan sikap yang kurang aspiratif itu membuat R. Samsoeridjal keluar dari Jong Java. Keluarnya R. Samsoeridjal dari dari Jong Java merupakan nasihat dari Hajdi Agoes Salim.
R. Samsoeridjal pun kemudian mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB) pada 1 Januari 1925. Kemudian, JIB pun mengadakan kongres pertamanya pada bulan Desember 1925 di Yogyakarta.
Tujuan Organisasi Pemuda Jong Islamieten Bond
Setelah menilik sejarah terbentuknya Jong Islamieten Bond, dapat dipahami bahwa tujuan organisasi tersebut tentu berkaitan dengan ajaran Islam. Namun, hal itu adalah asumsi yang dini sebab hanya menafsirkan dari uraian selintas.
Supaya lebih jelas dan tidak hanya berasumsi, mengutip dari buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977: 67), berikut adalah tujuan Jong Islamieten Bond yang tertuang dalam anggaran dasarnya.
Mempelajari dan mendorong hidupnya kembali agama Islam dengan toleransi terhadap agama lain.
Memupuk dan menaikkan simpati terhadap pemeluk agama Islam dan pengikut-pengikutnya di samping kesabaran terhadap golongan lain.
Mengorganisasi kursus-kursus Islam, darmawisata, sport, dan dengan jalan agama Islam.
Meningkatkan kemajuan jasmani dan rohani anggota-anggotanya dengan jalan menahan diri sendiri dan sabar.
Selain memiliki kaitan dengan ajaran Islam, Jong Islamieten Bond juga membolehkan anggotanya untuk mengikuti gerakan politik. Namun, Jong Islamieten Bond tidak mencampuri politik praktis.
Jadi, sejarah kelahiran Jong Islamieten Bond bermula dari sikap diskriminatif dan aspiratif dalam lingkup organisasi Jong Java. Pasalnya, Jong Java tidak membenarkan adanya diskusi tentang Islam dan tidak membenarkan anggotanya ikut dalam gerakan politik. (AA)
