Konten dari Pengguna

Mitos Baju Hijau di Pangandaran yang Masih Dipercaya hingga Kini

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mitos Baju Hijau di Pangandaran yang Masih Dipercaya hingga Kini, Foto: Pixabay/Adhi_71
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mitos Baju Hijau di Pangandaran yang Masih Dipercaya hingga Kini, Foto: Pixabay/Adhi_71

Mitos baju hijau di Pangandaran merupakan salah satu cerita yang cukup dikenal di kalangan wisatawan maupun warga setempat.

Cerita ini telah beredar sejak lama dan menjadi bagian dari kepercayaan yang diwariskan turun-temurun. Keunikan kisah ini membuat banyak orang penasaran akan latar belakang dan kebenarannya.

Dikutip dari Dinamika Kehidupan Nelayan Pangandaran (1950-1970 AN), (Afidah, 58:2022), Pangandaran adalah kabupaten yang resmi dibentuk pada 25 Oktober 2012, sesuai dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2012.

Mitos Baju Hijau di Pangandaran

Ilustrasi Mitos Baju Hijau di Pangandaran yang Masih Dipercaya hingga Kini, Foto: Pixabay/rendy224

Mitos baju hijau di Pangandaran adalah salah satu kepercayaan yang sangat kuat dan masih dipegang hingga kini oleh masyarakat setempat maupun para wisatawan.

Mitos ini berkaitan erat dengan legenda Nyi Roro Kidul, sang Ratu Pantai Selatan yang dipercaya menguasai seluruh wilayah pesisir selatan Jawa, termasuk Pantai Pangandaran.

Menurut kepercayaan yang berkembang, warna hijau adalah warna favorit Nyi Roro Kidul. Oleh karena itu, siapa pun yang mengenakan pakaian berwarna hijau di Pantai Pangandaran diyakini bisa "diculik" atau terseret ombak oleh sang ratu laut.

Konon, siapa yang memakai baju hijau lebih rentan hilang atau tenggelam di laut, karena dianggap telah menarik perhatian penguasa gaib pantai selatan tersebut.

Larangan ini sudah berlangsung lama dan masih dihormati hingga sekarang, bahkan sering diingatkan oleh orang tua kepada anak-anaknya sebelum berlibur ke Pangandaran.

Mitos ini juga didukung oleh cerita-cerita turun-temurun tentang korban yang hilang atau tenggelam di Pantai Pangandaran, yang sering dikaitkan dengan “tumbal” untuk Nyi Roro Kidul.

Kejadian-kejadian tersebut menambah kuat keyakinan masyarakat terhadap larangan memakai baju hijau di kawasan pantai selatan. Selain alasan mistis, larangan ini ternyata juga memiliki penjelasan logis.

Secara ilmiah, baju berwarna hijau mudah menyatu dengan warna air laut, sehingga jika seseorang terseret ombak, tim penyelamat akan lebih sulit menemukannya dibanding jika mengenakan baju berwarna cerah seperti merah atau kuning.

Oleh sebab itu, larangan memakai baju hijau juga menjadi bentuk kewaspadaan demi keselamatan pengunjung.

Meski sebagian orang menganggapnya hanya mitos, cerita tentang larangan memakai baju hijau di Pangandaran tetap menjadi bagian penting dari budaya dan tradisi lokal.

Mitos baju hijau di Pangandaran juga menjadi pengingat agar wisatawan selalu menghormati adat istiadat dan menjaga keselamatan saat berwisata di pantai. (Fikah)

Baca juga: Mitos Pulau Komodo yang Melekat dalam Tradisi Warga Lokal