Konten dari Pengguna

Mitos Candi Arjuna, Misteri Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mitos Candi Arjuna, Foto:Unsplash/Naman Sood
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mitos Candi Arjuna, Foto:Unsplash/Naman Sood

Candi Arjuna adalah simbol sejarah Dieng yang paling dikenal. Mitos Candi Arjuna kerap dikaitkan dengan aura gaib dan energi spiritual yang dipercaya menjaga keseimbangan alam sekitarnya.

Sebagai salah satu kompleks candi tertua dari era Kerajaan Mataram Kuno, Candi Arjuna menjadi pusat kepercayaan mistis yang masih hidup di kalangan penduduk lokal maupun pengunjung.

Mitos Candi Arjuna: Energi Gaib dan Legenda Lokal

Ilustrasi Mitos Candi Arjuna, Foto:Unsplash/Darshan Patel

Mitos Candi Arjuna menyebut bahwa kompleks ini dibangun dengan bantuan tenaga ghaib, atau didirikan dalam satu malam oleh makhluk halus. Masyarakat percaya bahwa ada penyimpanan energi sakral di dalam batu-batuan andesitnya.

Struktur Candi Arjuna dan sekelilingnya ditata mengikuti prinsip atau kepercayaan dalam aliran Hindu Shaivistik (pemujanya Dewa Siwa).

Simbol trimurti dan relief dewa dalam mitologi Indonesia, menunjukkan bahwa candi ini bukan hanya monumen, tetapi ruang suci yang memiliki fungsi spiritual.

Legenda setempat mengatakan bahwa siapa pun yang datang dengan niat buruk akan menghadapi gangguan, suara ritual entah dari mana, kilasan cahaya di malam hari, atau perubahan suhu tiba-tiba.

Ada pula yang menuturkan bahwa jejak kaki Raja Sanjaya, pendiri candi, terlihat samar di pondasi candi kala malam gelap.

Jejak Arsitektur dan Fungsi Religius Candi

Candi Arjuna dilengkapi fakta arkeologis. Candi Arjuna dan candi sekitarnya dibangun antara abad ke-7 hingga ke-8 Masehi sebagai pusat pemujaan Dewa Siwa.

Kompleks ini terdiri atas Candi Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, dan Sembadra, dinamai berdasarkan tokoh Mahabharata.

Kubus sederhana candi menjadi wadah simbol trimurti, lengkap dengan ornamen makara dan kala.

Mengutip laman journal.unnes.ac.id, ornamen pada kelompok Candi Arjuna memiliki kelengkapan visual yang lebih sempurna dan lengkap dibandingkan candi-candi di kompleks Dieng.

Hubungan itu pula yang menciptakan kesan bahwa struktur ini punya tujuan religius dan sakral lebih kuat daripada hanya sebagai warisan budaya fisik.

Mitos Candi Arjuna terus hidup melalui ritual lokal, larangan adat, dan media sosial. Banyak pengunjung datang untuk mencari berkah, melakukan meditasi, atau sekadar merasakan energi spiritual.

Meski tidak semua percaya secara harfiah, pengalaman mistikal tetap menambah dimensi saat mengunjungi situs tersebut.

Cerita-cerita tentang kilasan sosok misterius atau perasaan didampingi saat berada di dekat candi memperkuat reputasinya sebagai gerbang spiritual Kerajaan Mataram Kuno. (Rahma)

Baca juga: Mitos Gunung Sumbing Kisah Mistis di Balik Keindahan Alam