Mitos Candi Cangkuang Garut yang Beredar di Masyarakat

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Candi Cangkuang adalah candi Hindu abad ke‑8 yang terletak di sebuah “pulau” kecil di tengah Situ Cangkuang, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Di balik keindahannya, ada mitos Candi Cangkuang Garut yang menyelimuti.
Dikutip dari download.garuda.kemdikbud.go.id, kompleks ini unik karena berdampingan dengan makam Embah Dalem Arief Muhammad, tokoh penyebar Islam, serta pemukiman adat Kampung Pulo. Inilah yang menjadi simbol toleransi dan akulturasi budaya.
Mitos Candi Cangkuang Garut
Di bawah ini ada informasi seputar mitos Candi Cangkuang Garut yang beredar di masyarakat dan dipercaya turun temurun sampai sekarang.
1. Larangan Berziarah pada Hari Rabu
Masyarakat setempat meyakini bahwa Rabu adalah hari untuk pemujaan Dewa Siwa dalam tradisi Hindu. Sehingga, berziarah ke makam atau candi di hari tersebut dianggap mendistorsi ritus leluhur dan bisa membawa kesialan.
2. Pantangan Menabuh Gong Besar
Mitos yang paling terkenal adalah larangan menabuh gong perunggu berukuran besar.
Konon, saat anak lelaki Arif Muhammad akan dikhitan dulu, rombongan mengarak sambil menabuh gong, terjadi angin topan dan anak tersebut meninggal. Sejak itu, gong besar dilarang ditabuh di kawasan cagar budaya ini.
3. Dilarang Memelihara Hewan Berkaki Empat
Kampung Pulo melarang memelihara hewan berkaki empat kecuali kucing, karena dikhawatirkan merusak makam atau kebun warga. Kebijakan ini juga terkait upaya menjaga kesucian pusara leluhur.
4. Pantangan Menambah atau Mengurangi Bangunan
Kampung Pulo secara turun-temurun hanya memiliki enam rumah adat dan satu masjid, melambangkan enam putri dan satu putra Arif Muhammad.
Mitosnya menegaskan agar tidak ada pembangunan tambahan, guna menjaga keseimbangan sejarah dan spiritual.
5. Larangan Berpacaran di Area Cagar
Larangan berpacaran di area candi dan makam dipercaya bisa mendatangkan karma atau malapetaka, termasuk putus cinta mendadak. Ini juga sebagai bentuk penghormatan terhadap kesakralan tempat tersebut.
Berdirinya Candi Cangkuang dan makam Arif Muhammad yang berdampingan mencerminkan toleransi antara budaya Hindu dan Islam di tataran akar lokal.
Mitos-mitos tersebut berkembang melalui ritus adat, lisan, dan tanggung jawab menjaga identitas serta nilai spiritual Kampung Pulo. Selain keindahan arsitektur candi dan panorama danau, lapisan mistis mitos ini menambah karakter dan pengalaman kunjungan budaya.
Sebagai destinasi wisata budaya, Cangkuang tidak hanya menyajikan estetika, tetapi juga nuansa historis dan mistis yang mendalam.
Mitos-mitos Candi Cangkuang Garut merupakan cerminan nilai budaya, spiritual, sekaligus wujud penghormatan terhadap leluhur dan kesakralan tempat.
Dengan mengintegrasikan simbolisme dan akulturasi agama, mitos ini tetap lestari dan memperkaya identitas lokal. (Aya)
Baca juga: Mitos Candi Arjuna, Misteri Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno
