Mitos Gunung Anjasmoro yang Menarik untuk Diketahui

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mitos Gunung Anjasmoro menyimpan beragam kisah mistis yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat sekitar.
Gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Jombang, Mojokerto, dan Malang ini bukan hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena cerita-cerita penuh misteri yang mengelilinginya.
Mitos Gunung Anjasmoro yang Menarik
Mitos Gunung Anjasmoro telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di sekitar kawasan pegunungan tersebut.
Dikutip dari jurnal Keanekaragaman Arthropoda Tanah Di Gunung Anjasmoro, Desa Carang Wulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang oleh Muhibbuddin,dkk (2020) gunung ini dikenal memiliki lebih dari 40 puncak dengan ketinggian tertinggi.
Mencapai 2.280 meter di atas permukaan laut dan membentang di wilayah Kabupaten Jombang, Kediri, Mojokerto, Malang, serta Kota Batu di Provinsi Jawa Timur.
Gunung ini merupakan bagian dari jajaran Pegunungan Arjuno-Welirang dan menyimpan nuansa misterius yang menarik perhatian para pendaki dan pencinta kisah-kisah spiritual.
Nama "Anjasmoro" sendiri konon berasal dari tokoh pewayangan Jawa, yaitu Prabu Anjasmara, seorang raja bijaksana yang dipercaya memiliki hubungan spiritual dengan kawasan gunung ini.
Banyak yang mempercayai bahwa arwah Prabu Anjasmara masih menjaga kawasan Gunung Anjasmoro dan menjadi pelindung dari berbagai mara bahaya.
Masyarakat setempat meyakini bahwa Gunung Anjasmoro bukanlah gunung yang bisa didaki sembarangan. Selain izin administratif, diperlukan juga izin batin sebelum memulai pendakian.
Para pendaki dianjurkan untuk mengucapkan permisi atau melakukan doa terlebih dahulu sebagai bentuk penghormatan terhadap para penunggu gaib gunung.
Terdapat pula larangan-larangan selama pendakian, seperti tidak boleh berkata kasar, bersikap sombong, atau membawa benda-benda bertuah tanpa izin leluhur.
Di beberapa bagian gunung, terdapat situs-situs yang dianggap sakral, seperti makam leluhur dan tempat bertapa, salah satunya yang terkenal adalah Petilasan Eyang Semar. Tempat ini sering diziarahi oleh orang yang mencari ketenangan batin atau petunjuk spiritual dalam hidupnya.
Selain itu, tidak sedikit cerita tentang penampakan makhluk gaib yang menghiasi kisah-kisah pendakian di Gunung Anjasmoro.
Beberapa pendaki mengaku mendengar suara gamelan di malam hari, melihat sosok wanita berpakaian putih, atau merasa ditemani oleh entitas yang tak kasat mata.
Mitos lainnya menyebutkan bahwa hutan di lereng Anjasmoro merupakan “hutan hidup” yang bisa menyesatkan para pendaki.
Meski telah menggunakan GPS atau mengikuti jalur resmi, tak sedikit yang tersesat karena dianggap tidak menghormati aturan gaib yang berlaku.
Mitos Gunung Anjasmoro bukan sekadar cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun, tetapi juga cerminan kearifan lokal yang mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam dan menghormati yang tak terlihat.
Di balik keindahan alamnya yang memesona, tersimpan pesan-pesan spiritual dan nilai-nilai budaya yang mendalam. (shr)
Baca juga: Mitos Burung Kenari, Apakah Benar Hewan Ini Bisa Membaca Energi Manusia?
