Mitos Gunung Tambora sebagai Gunung yang Menelan Peradaban

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mitos Gunung Tambora menjadi bagian menarik dari cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat sekitar gunung.
Mengutip dari ppebalinusra.menlhk.go.id, Gunung Tambora terletak di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, dan dikenal sebagai lokasi letusan gunung berapi terdahsyat dalam sejarah.
Tambora menyimpan bukan hanya jejak bencana, tetapi juga kisah-kisah mistis yang terus diceritakan dari generasi ke generasi. Cerita-cerita ini sering dikaitkan dengan kekuatan alam, roh penjaga, hingga peristiwa gaib yang dipercaya terjadi di kawasan gunung.
Mitos Gunung Tambora
Mitos Gunung Tambora sebagai gunung yang menelan peradaban telah menjadi cerita turun-temurun di kalangan masyarakat Bima dan Dompu.
Gunung ini tidak hanya dikenal karena letusan dahsyatnya pada April 1815 yang tercatat sebagai yang terbesar dalam sejarah modern, tetapi juga karena dipercaya telah mengubur seluruh kehidupan sebuah kerajaan makmur bernama Kerajaan Tambora.
Letusan tersebut menyebabkan kematian puluhan ribu jiwa dan menghilangkan jejak budaya yang pernah hidup di lereng gunung.
Dalam kisah rakyat, Kerajaan Tambora digambarkan sebagai kerajaan yang kaya raya, namun penuh kesombongan. Masyarakatnya hidup dalam kemewahan dan disebut-sebut menolak ajaran kebaikan.
Konon, seorang ulama dari Gowa datang untuk mengingatkan mereka, namun justru dihina dan dibunuh oleh sang raja.
Tak lama setelah itu, Gunung Tambora meletus hebat dipercaya sebagai bentuk murka alam atau hukuman dari Tuhan atas perilaku manusia yang melampaui batas.
Cerita ini bukan sekadar mitos. Pada tahun 2004, vulkanolog dunia asal Islandia, Haraldur Sigurdsson, menemukan sisa-sisa peradaban yang terkubur di lereng Tambora.
Temuan berupa kerangka manusia, pecahan keramik, dan sisa bangunan rumah memperkuat keyakinan bahwa memang pernah ada kehidupan besar di sekitar sana.
Banyak pihak menyebut situs ini sebagai Pompeii dari Timur, karena musnahnya secara mendadak akibat bencana alam.
Dalam kepercayaan lokal, nama “Tambora” sendiri diyakini berasal dari bahasa Bima: ta berarti ajakan dan mbora berarti lenyap atau hilang. Hal ini dianggap sebagai simbol bahwa gunung ini “mengajak lenyap” siapa pun yang melanggar batas.
Itulah penjelasan mengenai mitos Gunung Tambora sebagai gunung yang menelan peradaban. Kisah ini terus hidup dalam ingatan masyarakat sebagai peringatan akan dahsyatnya kekuatan alam dan rapuhnya sebuah peradaban di hadapannya.
Baca Juga: 6 Misteri Gunung Himalaya yang Menggemparkan
