Konten dari Pengguna

Mitos Rumah Dempet yang Sering Jadi Perbincangan

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mitos rumah dempet. Foto: Pexels.com/Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mitos rumah dempet. Foto: Pexels.com/Pixabay

Mitos rumah dempet masih menjadi pembicaraan di tengah masyarakat yang mempercayai nilai-nilai tradisional. Kepercayaan ini berkembang di berbagai daerah, khususnya pada lingkungan permukiman padat.

Meski zaman telah berubah, sebagian orang tetap menjadikan mitos tersebut sebagai pertimbangan utama sebelum membeli rumah.

Mitos Rumah Dempet

Ilustrasi mitos rumah dempet. Foto: Pexels.com/Jessica Bryant

Mitos rumah dempet dipercaya membawa pengaruh buruk terhadap energi dan keberuntungan penghuni di dalamnya.

Mengutip dari goughs.co.uk, rumah dempet sendiri merujuk pada rumah yang memiliki satu atau dua sisi bangunan yang menempel langsung pada tembok rumah tetangga, tanpa adanya jarak atau lahan kosong di antaranya.

Kepercayaan tradisional menyebut bahwa rumah yang menempel dengan bangunan lain dapat menghambat aliran energi positif, sehingga bisa berdampak pada keharmonisan dan kesehatan penghuninya.

Ada anggapan bahwa energi tidak bisa bersirkulasi dengan bebas, lalu terjebak dan menumpuk menjadi aura negatif yang terus menerus dirasakan.

Dalam feng shui, beberapa praktisi juga menghindari rumah yang berdempetan karena dianggap tidak simetris secara energi.

Keberadaan tembok yang menyatu dengan rumah tetangga dianggap bisa mengundang konflik, baik secara psikologis maupun secara spiritual.

Bahkan, dalam beberapa budaya lokal, rumah dempet dipercaya membawa potensi cekcok antar penghuni karena batas kepemilikan yang tidak jelas.

Ini diperparah jika ada elemen seperti pagar atau tembok pembatas yang rusak atau tidak dirawat, sebab bisa menimbulkan ketegangan di antara dua pihak.

Selain itu, mitos lain menyebut bahwa rumah dempet akan lebih sering mengalami kerusakan pada satu sisi dinding karena tidak terpapar angin dan sinar matahari langsung.

Situasi ini dianggap dapat menciptakan lingkungan yang lembap, yang menurut kepercayaan tertentu bisa mengundang gangguan dari makhluk halus.

Walaupun hal ini terdengar irasional bagi sebagian kalangan, tidak sedikit masyarakat yang tetap menghindari desain rumah seperti ini karena takut terkena sial atau gangguan tak kasat mata.

Dalam praktik hukum pertanahan modern, konsep kepemilikan tembok atau pagar yang menempel antar rumah biasanya diatur dalam dokumen legal seperti sertifikat tanah atau akta jual beli.

Sayangnya, banyak pembeli rumah yang tidak terlalu memperhatikan aspek legal ini sehingga mitos menjadi satu-satunya panduan saat memutuskan.

Padahal, tanggung jawab terhadap tembok dan batas tanah sebaiknya diklarifikasi lewat dokumen hukum yang jelas agar tidak terjadi konflik di kemudian hari.

Kepercayaan terhadap mitos dari rumah yang dempet mungkin tidak memiliki landasan ilmiah, namun masih tetap mempengaruhi keputusan sebagian besar masyarakat dalam memilih tempat tinggal.

Selama tidak ada konflik nyata atau ketidakseimbangan struktural, rumah dempet tetap bisa menjadi pilihan yang layak dan nyaman untuk dihuni.

Keyakinan mengenai mitos ini memang sudah melekat sejak lama, tetapi pemahaman rasional dan pendekatan legal tetap perlu dikedepankan untuk menilai kelayakan suatu hunian.

Masyarakat sebaiknya memahami bahwa mitos rumah dempet bukanlah satu-satunya penentu kenyamanan sebuah tempat tinggal. (Khoirul)

Baca Juga: Mitos Rumah Nomor 13 yang Mencengangkan