Mitos Sungai Brantas yang Dianggap Amat Angker

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mitos Sungai Brantas yang dianggap amat angker menjadi bagian menarik dari kisah-kisah mistis yang beredar luas di masyarakat Jawa Timur, khususnya mereka yang tinggal di sekitar aliran sungai ini.
Sungai Brantas, sebagai sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa, tidak hanya dikenal karena perannya yang vital dalam kehidupan masyarakat, tetapi juga karena menyimpan cerita-cerita misterius yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Banyak warga percaya bahwa sungai ini dijaga oleh makhluk halus atau kekuatan gaib yang tak kasatmata.
Mitos Sungai Brantas
Dikutip dari laman ejournal.radenintan.ac.id, mitos Sungai Brantas menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di sepanjang aliran sungai yang membelah wilayah Jawa Timur ini.
Sungai yang membentang dari hulu di Malang hingga bermuara di Surabaya ini bukan hanya dikenal karena manfaatnya dalam bidang pertanian dan kehidupan sehari-hari, tetapi juga karena kisah-kisah mistis yang menyelimutinya.
Sejumlah mitos berkembang secara turun-temurun, mulai dari kutukan terhadap tokoh besar, keberadaan makhluk halus, hingga larangan menikah antarwilayah yang dipisahkan oleh sungai tersebut.
Salah satu kepercayaan paling terkenal adalah mitos yang menyebutkan bahwa pemimpin atau tokoh penting yang menyeberangi Sungai Brantas dipercaya akan kehilangan kekuasaan atau menderita kekalahan dalam pertempuran.
Mitos ini diyakini berasal dari kutukan penguasa gaib Kerajaan Kalingga yang konon masih menjaga kesakralan sungai tersebut.
Keyakinan ini masih menghantui beberapa pemimpin yang enggan menyeberangi sungai pada saat-saat penting atau menjelang pengambilan keputusan besar.
Cerita lainnya berkaitan dengan makhluk halus penghuni sungai. Banyak warga melaporkan peristiwa orang tenggelam secara misterius tanpa sebab yang jelas.
Mereka percaya bahwa makhluk tak kasatmata tersebut menarik korban ke dalam air karena sikap tidak sopan atau karena pelanggaran terhadap pantangan tertentu yang berlaku secara adat.
Beberapa titik di sepanjang sungai bahkan dianggap sebagai tempat keramat yang tidak boleh sembarangan dilalui atau dibicarakan.
Selain itu, mitos lain yang berkembang adalah larangan menikah antara orang yang berasal dari sisi timur (etan) dan barat (kulon) Sungai Brantas.
Konon, pernikahan antara dua orang dari dua sisi yang berbeda ini akan berakhir dengan kehancuran rumah tangga, pertengkaran yang terus-menerus, atau bahkan perceraian.
Kepercayaan ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat dan menjadi pertimbangan khusus dalam memilih pasangan hidup.
Meski banyak pihak memandang kisah-kisah tersebut sebagai bagian dari cerita rakyat semata, namun kehadirannya tetap memberi warna tersendiri dalam kebudayaan lokal.
Nilai-nilai tradisi, rasa hormat terhadap alam, dan keyakinan spiritual masyarakat Jawa Timur tetap terjaga melalui keberlangsungan mitos Sungai Brantas hingga hari ini. (KIKI)
Baca juga: Mitos Danau Maninjau yang Masih Diyakini Masyarakat hingga Kini
