Konten dari Pengguna

Mitos Telaga Ngebel dan Kepercayaan Masyarakat Lokal

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mitos Telaga Ngebel,Foto:Unplash/Wahyu Trianto
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mitos Telaga Ngebel,Foto:Unplash/Wahyu Trianto

Mitos Telaga Ngebel merupakan salah satu cerita rakyat yang telah lama berkembang di kalangan masyarakat Ponorogo, Jawa Timur.

Kisah ini tak sekadar menjadi legenda turun-temurun, tetapi juga menyimpan nilai-nilai budaya dan kepercayaan lokal yang masih hidup hingga kini.

Mitos Telaga Ngebel dan Kepercayaan Masyarakat Lokal

Ilustrasi Mitos Telaga Ngebel,Foto:Unplash/Zach Wear

Mitos Telaga Ngebel merupakan bagian penting dari warisan budaya masyarakat Ponorogo, khususnya warga di sekitar Desa Ngebel.

Telaga yang terletak di lereng Gunung Wilis ini dipercaya menyimpan kekuatan gaib dan menjadi tempat bersemayamnya makhluk halus.

Kepercayaan ini berkembang dari cerita rakyat yang menyebutkan bahwa telaga tersebut memiliki kaitan dengan makhluk mitologis, serta seringnya terjadi kecelakaan misterius di kawasan ini, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa.

Oleh karena itu, masyarakat meyakini perlunya diadakan tradisi larungan sebagai bentuk penghormatan dan persembahan kepada penunggu telaga agar tidak mendatangkan marabahaya.

Dikutip dari jurnal Mitos dan Semiotika Legenda Telaga Ngebel (Tradisi Larungan di Kecamatan Ngebel Kabupaten Ponorogo) oleh Nabila Nindya, dkk. (2021), setiap bulan Suro Kabupaten Ponorogo menyelenggarakan serangkaian tradisi larungan di Telaga Ngebel.

Tradisi ini merupakan bentuk ritual untuk memberikan sesaji kepada makhluk halus penunggu telaga agar tidak murka. Larungan diyakini dapat mencegah terjadinya kecelakaan atau musibah.

Warga percaya bahwa apabila larungan tidak dilaksanakan, maka penunggu telaga akan meminta tumbal dalam bentuk korban jiwa.

Larungan dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu larung malam dan larung pagi. Larung malam digelar pada malam satu Suro dengan inti acara melarung buceng alit (nasi tumpeng kecil dari beras merah).

Sebelum larung malam, dilakukan penyembelihan wedus kendhit (kambing belang) pada siang harinya, diikuti tirakatan oleh para tetua dan prosesi Seribu Dian, yakni seribu pemuda membawa obor mengelilingi telaga.

Keesokan harinya, acara dilanjutkan dengan larung pagi yang lebih meriah. Dalam larung pagi, dua buceng dilarung ke telaga, yaitu buceng lanang (jantan) yang dilarung ke air, dan buceng wadon (betina) yang dibagikan kepada warga.

Acara ini diawali dengan pembukaan, kirab budaya, serah terima sesaji, dan ditutup dengan pelarungan buceng lanang sebagai simbol puncak perayaan. Suasana semakin semarak dengan penampilan seni tradisional seperti tari Gambyong, Bedaya Larung, dan Jathilan.

Tradisi ini bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya dan identitas lokal.

Bagi masyarakat Ngebel, mitos dan larungan adalah bagian dari keyakinan yang diwariskan secara turun-temurun, dan hingga kini tetap dijaga demi harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan gaib yang dipercaya menaungi Telaga Ngebel.

Mitos Telaga Ngebel menjadi warisan budaya yang tak ternilai bagi masyarakat Ponorogo dan sekitarnya.

Cerita turun-temurun tentang asal-usul telaga ini bukan hanya sarat dengan nilai-nilai moral dan spiritual, tetapi juga memperkuat ikatan masyarakat dengan alam dan sejarah leluhur. (shr)

Baca juga: 3 Pantangan Naik Gunung Ciremai yang Masih Dipercaya