Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Nama Raja-Raja Kerajaan Sambas beserta Fakta di Baliknya
3 Januari 2024 21:26 WIB
·
waktu baca 2 menitTulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Nama raja-raja Kerajaan Sambas memang menjadi topik yang menarik untuk diketahui. Sebab, kerajaan yang terletak di Kalimantan Barat ini berhasil bertahan hingga penjajahan Jepang dimulai.
ADVERTISEMENT
Sebagai salah satu kerajaan yang berdiri hingga ratusan tahun, ada belasan nama yang berhasil menjadi raja Kesultanan Sambas. Siapa saja mereka? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Nama Raja-Raja Kerajaan Sambas
Kerajaan Sambas merupakan salah satu kerajaan Islam yang terletak di kawasan pantai utara Kalimantan Barat. Selama berdiri, kerajaan ini dianggap sangat maju karena memiliki keragaman budaya.
Dirangkum dari Sejarah Kesultanan Kalimantan Barat milik Moh Haitami, dkk., dahulu, kerajaan ini terlibat dalam jaringan internasional. Akibatnya, terdapat berbagai kebudayaan di kawasan tersebut, mulai dari Hindu-Buddha, Tiongkok, hingga Islam.
Berbagai perbedaan ini yang akhirnya mendorong Kerajaan Sambas menjadi peradaban maju. Selama berdiri, Sambas dipimpin oleh belasan raja, hingga akhirnya mundur setelah NKRI didirikan.
ADVERTISEMENT
Belasan raja inilah yang membantu Kerajaan Sambas untuk menjadi kesultanan yang maju dan memegang teguh tradisi Islam. Siapa saja mereka? Berikut penjelasannya.
ADVERTISEMENT
Keenam belas raja inilah yang memimpin Kerajaan Sambas selama berdiri.
Fakta Raja-Raja Sambas
Raja-raja dari Sambas juga memiliki sejumlah fakta menarik. Salah satu contohnya adalah Sultan Muhammad Tajuddin, yang memindahkan kota kerajaan ke percabangan tiga sungai, yakni Sungai Sambas, Sungai Tebrau, dan Sungai Subah.
Ada pula kisah Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Shafiuddin yang dibunuh oleh pemerintah Jepang karena dianggap melakukan pemberontakan. Tragedi ini pun dikenal sebagai Peristiwa Mandor. (RN)