Konten dari Pengguna

Pantangan ke Pantai Selatan yang Harus Diketahui sebelum Liburan

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pantangan ke Pantai Selatan,Foto: Unplash/Dicko Yudhatama
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pantangan ke Pantai Selatan,Foto: Unplash/Dicko Yudhatama

Pantangan ke Pantai Selatan bukanlah hal yang asing bagi masyarakat Jawa terutama yang tinggal di sekitar pesisir selatan Pulau Jawa. Kawasan ini dikenal tidak hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena aura mistis yang menyelimutinya.

Pantangan tersebut dipercaya berkaitan erat dengan mitos Ratu Pantai Selatan dan kekuatan gaib yang diyakini masih menjaga wilayah tersebut hingga kini.

Pantangan ke Pantai Selatan

Ilustrasi Pantangan ke Pantai Selatan,Foto: Unplash/Alvian Hasby

Pantangan ke Pantai Selatan bukan sekadar mitos atau cerita turun-temurun, melainkan bagian dari kepercayaan budaya yang masih dijaga hingga kini oleh masyarakat Jawa, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir selatan.

Dikutip dari jurnal Penerapan Rational Emotive Therapy dalam Budaya Masyarakat Jawa Mengenai Larangan Memakai Baju Hijau di Pantai Selatan oleh Amelia, dkk. (2022), salah satu pantangan paling terkenal terutama di daerah seperti Parangtritis, adalah tidak diperbolehkannya mengenakan pakaian berwarna hijau.

Larangan ini dipercaya berkaitan erat dengan legenda Nyi Roro Kidul sosok ratu mistis penguasa Laut Selatan. Konon, Nyi Roro Kidul sangat menyukai warna hijau, dan tidak suka jika orang lain mengenakan warna yang sama.

Masyarakat meyakini bahwa orang yang memakai busana bernuansa hijau bisa menjadi target Nyi Roro Kidul dan diseret oleh ombak ke tengah laut, lalu dijadikan pelayan atau budaknya di alam gaib.

Bagi sebagian orang, cerita ini mungkin terdengar seperti mitos belaka. Namun, tidak sedikit yang mengaku mengalami kejadian aneh setelah melanggar pantangan tersebut.

Beberapa wisatawan bahkan dikabarkan hilang secara misterius setelah mengenakan pakaian hijau saat bermain di sekitar pantai.

Hal inilah yang membuat masyarakat setempat tetap menjaga dan menyampaikan pantangan ini kepada setiap pengunjung, sebagai bentuk kehati-hatian dan penghormatan terhadap kepercayaan lokal.

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita di balik pantangan tersebut, penting bagi wisatawan untuk menghormati tradisi dan budaya setempat.

Pantai Selatan memang memiliki nuansa mistis yang kental, dan menjaga sikap selama berada di sana adalah bentuk tanggung jawab moral sebagai tamu.

Menghindari pakaian hijau saat berkunjung bukanlah hal yang sulit, namun bisa menjadi wujud kepedulian terhadap kearifan lokal yang telah diwariskan selama berabad-abad.

Pantangan ke Pantai Selatan, seperti larangan mengenakan baju hijau, merupakan bagian dari identitas budaya yang memperkaya kisah dan pesona kawasan ini.

Meskipun terdengar mistis, menghargai pantangan semacam ini bisa menjadi langkah sederhana namun bijak demi keselamatan dan kenyamanan selama liburan. (shr)

Baca juga: Tarian Pacu Jalur, Asal-usul dan Filosofi Gerakannya