Konten dari Pengguna

Pantangan Malam 1 Suro yang Masih Dipercaya hingga Kini

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pantangan malam 1 suro. Pexels/Joonas kääriäinen
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pantangan malam 1 suro. Pexels/Joonas kääriäinen

Pantangan malam 1 suro yang dipercaya dapat menjaga diri dari gangguan halus atau kesialan. Pantangan ini diwariskan turun-temurun dan tetap dijaga dalam kehidupan sehari-hari oleh sebagian orang.

Malam 1 Suro dikenal sebagai malam yang penuh makna spiritual bagi masyarakat Jawa, khususnya dalam tradisi Kejawen. Banyak yang meyakini bahwa malam ini merupakan waktu terbukanya gerbang energi gaib.

Pantangan Malam 1 Suro Menurut Kepercayaan Jawa

Ilustrasi pantangan malam 1 suro. Pexels/mahe haroutinian

Pantangan malam 1 Suro muncul dari keyakinan bahwa malam tersebut bukan waktu untuk bersenang-senang, melainkan untuk menyepi dan bermeditasi.

Dalam budaya Jawa, malam 1 Suro adalah awal tahun baru penanggalan Jawa, sehingga dianggap sakral. Banyak orang memilih untuk melakukan tapa atau lelaku sebagai bentuk pembersihan diri.

Mengutip jurnal yang diterbitkan aksiologi.org, bulan 1 Suro adalah bulan pertama dalam penanggalan jawa ,yang juga bertepatan dengan bulan muharam dalam kalender hijriah.

Beberapa pantangan yang sering dihindari pada malam 1 Suro antara lain mengadakan pesta pernikahan, bepergian jauh, tidur terlalu awal, atau memancing. Larangan tersebut bukan tanpa alasan.

Pesta pernikahan dianggap membawa sial karena malam 1 Suro dipenuhi energi sunyi dan kontemplatif, bukan untuk perayaan. Bepergian jauh juga dihindari karena dipercaya lebih rawan kecelakaan akibat suasana malam yang angker.

Bahkan, tidur terlalu cepat dipandang bisa melewatkan kesempatan untuk merenung atau bermunajat dalam keheningan. Pantangan pada malam 1 Suro menjadi bagian dari kearifan lokal yang memadukan unsur kepercayaan spiritual dan nilai kehati-hatian.

Tradisi ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi satu rangkaian dengan ritual seperti tirakat, ziarah, atau bahkan nyepi di tempat keramat. Meski tidak semua orang mengikuti praktik ini, nilai kehati-hatian dan kesadaran diri tetap menjadi inti dari ajaran tersebut.

Sebagian besar masyarakat Jawa masih menghormati pantangan malam 1 Suro karena mengandung makna introspeksi, bukan sekadar mitos belaka.

Dengan mengikuti tradisi ini, diharapkan kehidupan menjadi lebih tenang, selamat, dan seimbang secara lahir batin. (Rahma)

Baca juga: Mitos Candi Arjuna, Misteri Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno