Pantangan Naik Gunung Rinjani hingga Kisah Mistis Menurut Masyarakat

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gunung Rinjani menjadi salah satu gunung yang sangat populer di kalangan pendaki. Sama dengan kebanyakan gunung lainnya, ada pantangan naik Gunung Rinjani hingga kisah mistis yang dipercaya masyarakat setempat.
Dikutip dari Partisipasi Komunitas dalam Pengelolaan Geopark Gunung Rinjani, oleh Shabrina A. G. et al, (2021), dalam situs gcs.itb.ac.id, Gunung Rinjani adalah gunung berapi aktif.
Gunung Rinjani merupakan gunung tertinggi kedua di Indonesia. Keistimewaannya terletak pada fenomena vulkanik, kekayaan hayati yang beragam, serta keunikan tradisi masyarakat setempat.
Pantangan Naik Gunung Rinjani
Seperti kebanyakan gunung lainnya, gunung ini juga memiliki pantangan naik Gunung Rinjani yang perlu diketahui pendaki.
Dikutip dari buku berjudul Taman Nasional Bali dan Nusa Tenggara Taman Nasional di Kepulauan Sunda Kecil, oleh Sherly, (2020:36), beberapa kawasan di Taman Nasional Gunung Rinjani menjadi tempat ibadah.
Tak hanya itu, beberapa juga menjadi tempat melakukan pemujaan, tempat bertapa, dan tempat menyucikan senjata.Sehingga, kawasan Rinjani menjadi kawasan yang memiliki pantangan dan larangan.
Masyarakat dilarang untuk mengucapkan kata-kata kotor dan kata-kata keluh kesah ataupun penuh kekhawatiran.
Masyarakat Lombok percaya bahwa Dewi Anjani, seorang putri dari raja dan peri, menetap di Gunung Rinjani dan menjadi penguasanya. Dewi Anjani digambarkan sebagai sosok yang menyayangi alam dan memiliki kekuatan gaib yang menguasai daerah sekitar gunung.
Masih dikutip dari buku Taman Nasional Bali dan Nusa Tenggara Taman Nasional di Kepulauan Sunda Kecil, oleh Sherly, (2020:36), ada juga larangan lain yaitu tidak diizinkan melewati jalur Toren.
Jalur Toren mulai diminati oleh para wisatawan. Jalur ini berada di Dusun Torean, Desa Loloan. Jalur tersebut dinyatakan ilegal oleh BTNGR.
Larangan tersebut mengacu pada medannya meter dpl, dan jalur Benang Stokel, ini merupakan jalur penduduk yang sangat berbahaya.
Ditambah dengan aliran Koko Puteq yang bisa membawa material letusan dari Segara Anak. Sehingga, lembah sungai ini merupakan salah satu kawasan berbahaya Gunung Rinjani.
Selama pendakian, banyak kawasan wisata alam lainnya yang bisa dikunjungi, seperti desa adat, hutan, padang savana, air terjun, sungai, gua, Segara Anak, Gunung Baru Jari, dan tentunya, puncak Rinjani.
Saat mendaki juga usahakan untuk menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan, dan mematuhi aturan serta etika pendakian yang ditetapkan oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani.
Itulah pantangan naik Gunung Rinjani hingga kisah mistis yang dipercaya masyarakat setempat. Dipercayai bahwa melanggar pantangan ini dapat mendatangkan musibah. (IF)
Baca juga: 3 Larangan di Coban Rondo yang Harus Diketahui Para Wisatawan
