Konten dari Pengguna

Pengarang Serat Wulangreh yang Sarat Ajaran Moral

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pengarang serat wulangreh. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengarang serat wulangreh. Foto: Pixabay

Serat Wulangreh sarat dengan ajaran nilai moral yang tinggi. Tidak mengherankan kalau banyak yang ingin tahu tentang siapa pengarang Serat Wulangreh tersebut.

Artikel di bawah ini akan menjelaskan tentang pengarang Serat Wulangreh yang menarik untuk diketahui.

Pengarang Serat Wulangreh

Ilustrasi pengarang serat wulangreh. Foto: Pixabay

Menurut buku Seutas Tali Berpilin Tiga karya Priyo Joko, dijelaskan bahwa Serat Wulangreh merupakan karya besar Sri Susuhunan Pakubuwana IV yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa.

Sri Susuhunan Pakubuwana IV adalah susuhunan ketiga Surakarta yang memerintah tahun 1788 - 1820. Dia dijuluki sebagai Sunan Bagus, karena naik tahta dalam usia muda dengan wajah yang tampan.

Sri Susuhunan Pakubuwana IV memiliki nama asli Raden Mas Subadya yang merupakan putra Pakubuwana III yang lahir pada 2 September 1768.

Serat Wulangreh selesai ditulis pada Minggu Kliwon tahun 1735. Munculnya Serat Wulangreh ini dipengaruhi oleh ajaran moral dan etika masyarakat saat itu.

Serat Wulangreh digunakan oleh masyarakat Jawa sebagaimana pedoman hidup yang adiluhung karena di dalamnya terdapat nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman hidup masyarakat.

Serat Wulangreh merupakan ajaran yang berbentuk puisi Jawa atau disebut tembang. Naskah tersebut tersimpan di Museum Sonobudaya, sedangkan duplikasi aslinya terdapat di Perpustakaan Pakualaman.

Berbagai ajaran tentang perbuatan baik, misalnya berbaik sangka, juga dituliskan dalam Serat Wulangreh di tembang megatruh bait 15 dan 16.

Poin dari kedua bait itu adalah manusia pasti memiliki garis kehidupan masing-masing sehingga jangan sesekali marah terhadap Tuhan dan menyalahkan keadaan.

Manusia sebaiknya menjalani kehidupan masing-masing dan jangan sesekali berburuk sangka pada orang lain, terlebih pada Tuhan. Salah satu caranya adalah dengan menuntut ilmu.

Ilmu merupakan kebutuhan dasar bagi manusia dan menjadi dasar dalam berperilaku atau bekerja seperti yang tertulis dalam tembang mijil bait 23 dan 24.

Orang berilmu akan terhindar dari perbuatan etika dan moral yang negatif, sehingga dapat dikatakan bahwa orang yang memiliki nilai moral dan etika yang buruk adalah orang yang tidak berilmu.

Demikian adalah pengarang Serat Wulangreh yang begitu sarat dengan ajaran moral juga menarik untuk diketahui. (SP)