Konten dari Pengguna

Pengertian dan Ciri-ciri Historiografi Tradisional

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi histpriografi tradisional. Sumber foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi histpriografi tradisional. Sumber foto: Unsplash

Untuk membedakan karya-karya hasil historiografi tradisonal dengan historiografi modern, individu perlu mengetahui ciri-ciri historiografi tradisional terlebih dahulu. Dengan ini, kesalahan bisa dihindari.

Salah satu ciri historiografi tradisional yang paling mencolok adalah bersifat istana sentris atau fokus pada kehidupan raja di zaman tersebut. Tidak hanya itu, simak ciri lengkapnya di bawah ini.

Definisi dan Ciri Historiografi Tradisional

Ilustrasi historiografi tradisional. Sumber foto: Unsplash

Historiografi merupakan gabungan dua kata bahasa Sansekerta, yakni history yang artinya sejarah, dan grafi yang artinya deskripsi atau penulisan. Jadi, historiografi adalah deskripsi penulisan sejarah.

Sedangkan, dalam bahasa Yunani, historiografi terdiri atas historia yang artinya penyelidikan tentang gejala alam fisik, serta grafein yang memiliki arti sebuah gambaran, tulisan, dan uraian.

Dikutip dari Modul Pembelajaran SMA Sejarah Kelas X, historiografi adalah cara untuk merekontruksi suatu gambaran di masa lampau berdasarkan data yang telah diperoleh melalui penelitian.

Dapat disimpulkan, historiogradi merupakan tahap terakhir dari sebuah metodologi penelitian yang dilakukan oleh seorang sejarawan. Hasil penelitiannya bisa berupa buku, film, dan lainnya.

Historiografi sendiri terbagi menjadi dua jenis, yakni historiografi tradisional dan historiografi modern. Di mana masing-masing memiliki ciri tersendiri. Namun, kali ini kita akan membahas ciri historiografi tradisional. Apa saja? Berikut penjelasannya!

1. Bersifat Istana Sentris

Historiografi tradisional pasti bersifat istana sentris. Artinya, karya yang dihasilkan lebih fokus pada kehidupan raja dan keluarganya saja. Jadi, tidak ada kisah rakyat biasa yang diangkat di dalamnya.

2. Bersifat Feodalistis Aristokratis

Historiografi tradisional juga bersifat feodalistis aristokratis, yakni hanya membahas kehidupan para bangsawan feodal saja. Jadi, kondisi ekonomi dan sosial rakyat tidak dibahas sama sekali.

3. Bersifat Regio Sentrisme

Ciri historiografi traadisional selanjutnya adalah bersifat regio sentrisme yang artinya kedaerahan atau menekankan pada suku bangsa dan budaya yang ada di kerajaan tersebut.

4. Bersifat Religius Magis

Historiografi tradisional juga bersifat religius magis, yakni selalu dikaitkan dengan keyakinan gaib. Umumnya, historiografi tradisional menempatkan raja sebagai Dewa atau Tuhan yang memiliki kesaktian.

5. Isinya Belum Bisa Dipertanggungjawabkan

Ciri terakhir dari historiografi tradisional adalah isinya belum dapat dipertanggungjawabkan. Karena, bisa saja terdapat kesalahan dalam kosa kata, waktu, hingga penguraian fakta sejarahnya.

Demikian penjelasan mengenai ciri-ciri historiografi tradisional. Semoga membantu! (RN)