Konten dari Pengguna

Pengertian Tedak Siten dan Filosofi di Balik Prosesi

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tedak siten adalah. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tedak siten adalah. Foto: Pixabay

Tedak Siten adalah salah satu upacara tradisional dalam budaya Jawa yang dilakukan untuk merayakan bayi yang pertama kali menginjakkan kaki di tanah.

Artikel di bawah ini akan membahas lebih lanjut tentang pengertian dan juga filosofi menarik di balik upacara Tedak Siten bagi anak ini.

Filosofi Tedak Sinten

Ilustrasi tedak siten adalah. Foto: Pixabay

Menurut asal katanya, seperti yang ditulis dalam buku Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita oleh Sahabat Khatulistiwa, Tedak Siten adalah menginjak tanah.

Hal ini dikarenakan Tedak Siten berasal dari kata tedak yang berarti turun dan siten yang berasal dari kata siti yang berarti tanah. Upacara ini biasanya dilakukan ketika bayi berusia tujuh atau delapan bulan.

Tedak Siten secara simbolis bertujuan untuk memperkenalkan seorang bayi kepada dunia luar dan tanah sebagai elemen penting dalam kehidupan manusia.

Upacara ini juga melambangkan harapan orang tua agar bayi dapat tumbuh dengan baik, mendapatkan berkah, dan selalu dilindungi oleh Tuhan dalam setiap langkah kehidupannya.

Prosesi Tedak Siten terdiri dari beberapa tahapan, yang masing-masing memiliki makna simbolis:

1. Persiapan Alat dan Bahan

Sebelum acara tedak sinten digelar, beberapa hal yang perlu disiapkan adalah:

  • Tangga Tebu: Dibuat dari batang tebu yang diikatkan menjadi tangga kecil. Tebu melambangkan harapan agar kehidupan bayi manis dan sejahtera.

  • Jadah Tujuh Warna: Ketannya terbuat dari beras ketan yang diwarnai dengan berbagai warna. Warna-warni ketan melambangkan keberagaman dan kelimpahan.

  • Beras Kencur dan Sesaji Lainnya: Sebagai simbol kebersihan dan berkah.

  • Pakaian: Bayi akan didandani dengan pakaian tradisional Jawa.

2. Turun Tangga Tebu

Bayi diarahkan untuk menaiki tangga tebu, dibantu oleh orang tua atau anggota keluarga lainnya. Ini melambangkan proses kehidupan yang akan dijalani oleh bayi.

3. Menginjak Jadah Tujuh Warna

Bayi kemudian diarahkan untuk menginjak jadah tujuh warna yang telah disiapkan. Ini melambangkan bahwa bayi akan menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan dan harus bisa mengatasi semuanya.

4. Melepaskan Ayam atau Burung

Sebagai simbol kebebasan dan harapan agar bayi bisa meraih masa depannya dengan bebas. Pada beberapa upacara, prosesi ini mungkin dihilangkan.

5. Pemilihan Barang

Bayi akan dihadapkan pada berbagai barang seperti buku, uang, alat tulis, dan mainan. Barang yang dipilih oleh bayi dipercaya melambangkan minat atau profesi masa depan bayi.

Tedak Siten adalah salah satu contoh bagaimana budaya dan tradisi Jawa kaya akan simbolisme dan nilai-nilai kehidupan. (SP)