Konten dari Pengguna

Penyebab Kemunduran Kesultanan Tidore dan Peninggalannya

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi foto Kesultanan Tidore. Sumber foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi foto Kesultanan Tidore. Sumber foto: Unsplash

Kesultanan Tidore adalah sebuah kerajaan Islam yang berpusat di Pulau Tidore, Maluku Utara dan mengalami masa kejayaan pada abad ke-16 sampai 18.

Setelah Sultan Nuku wafat pada 1805, kerajaan ini semakin mengalami kemunduran.

Sejarah Singkat dan Masa Kejayaan Kesultanan Tidore

Ilustrasi foto Kesultanan Tidore. Sumber foto: Unsplash

Dikutip dari buku Intisari Pengetahuan Sosial milik Istiqomah, Kerajaan Tidore dibangun pada abad ke-13.

Saat itu, Islam belum masuk ke Indonesia. Barulah pada 1495, Islam masuk ke Kerajaan Tidore yang saat itu dipimpin oleh Sultan Ciriliati.

Sultan Ciriliati atau biasa disebut sebagai Sultan Jamaluddin bersedia masuk Islam berkat dakwah Syekh Mansur dari Arab. Hal ini kemudian mulai mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat Tidore.

Kerajaan Tidore berhasil mencapai puncak masa kejayaannya saat dipimpin oleh Sultan Nuku. Pada masa ini, wilayah kekuasaannya telah berkembang ke sebagian besar Pulau Halmahera, Pulau Seram, hingga kawasan Papua.

Belum lagi, saat itu kehidupan politik Kerajaan Tidore dikenal teratur. Selain itu, Sultan Nuku juga gigih dan sukses melawan Belanda. Hal ini membuat Belanda mundur.

Penyebab Kemunduran Kesultanan Tidore

Sayangnya, masa kejayaan ini tidak bertahan lama. Sultan Nuku dikabarkan wafat pada 1805, dan sejak itu Belanda kembali mulai mengincar Kesultanan Tidore.

Saat itu juga, Spanyol dan Portugis melakukan politik adu domba demi memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Kemunduran dari Kerajaan Tidore pun semakin terlihat.

Hingga akhirnya, Kesultanan Tidore berhasil jatuh ke tangan Belanda dan mulai bergabung dengan NKRI ketika Indonesia berhasil merdeka pada 1945.

Peninggalan Kesultanan Tidore

Peninggalan Kerajaan Tidore yang masih ada sampai saat ini adalah Kadato Kie, yakni tempat peristirahatan Sultan Tidore. Lokasinya ada di Kelurahan Soasio, Kecamatan Tidore, Kota Tidore Kepulauan.

Sebenarnya, pada abad ke-20, istana ini sempat hancur, dan dipugarkan pada 1997 oleh Sultan Djafar Syah, penguasa ke-36 Kerajaan Tidore.

Selain Kadato Kie, peninggalan Kerajaan Tidore yang lain adalah Benteng Tahula dan Torre. Kedua benteng ini menjadi saksi bisu penjajahan bangsa Portugis.

Benteng Tahula sendiri baru dibangun pada 1610 untuk mengamati wilayah daratan serta perairan Tidore.

Demikian sejarah, masa kejayaan, penyebab kemunduran, serta peninggalan Kerajaan Tidore. Semoga membantu!