Penyebab Ketidakstabilan Politik pada Tahun 1950-an di Tanah Air Indonesia

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia pernah mengalami ketidakstabilan politik pada tahun 1950-an. Penyebab ketidakstabilan politik pada tahun 1950-an adalah keberadaan sistem multipartai di Indonesia.
Kondisi tersebut kemudian mengakibatkan konflik antarpartai karena faktor perbedaan ideologi. Ketidakstabilan politik pada masa itu juga mencakup seringnya pergantian kabinet yang terjadi nyaris setahun sekali.
Penyebab Ketidakstabilan Politik pada Tahun 1950-an
Indonesia pernah mengalami ketidakstabilan politik pada masa demokrasi parlementer atau demokrasi liberal yang terjadi sekitar tahun 1950-an. Salah satu penyebab ketidakstabilan politik pada tahun 1950-an adalah keberadaan sistem multipartai.
Indonesia menerapkan sistem multipartai berdasarkan Maklumat Pemerintah 3 November 1945. Sistem tersebut membuat munculnya berbagai macam partai yang saling bersaing untuk memperoleh kekuasaan.
Kondisi tersebut membuat banyak pihak membentuk partai politik dan setiap partai kerap memiliki ideologi yang berbeda. Oleh karena itu, keadaan politik menjadi kian tidak stabil seiring dengan terjadinya konflik antarpartai.
Demokrasi Parlementer Tahun 1950-an di Indonesia
Ketidakstabilan politik yang terjadi pada masa demokrasi parlementer di Indonesia menimbulkan banyak kekacauan. Selain menjamurnya partai politik dan konflik antarpartai, pergantian kabinet pun sering terjadi pada masa demokrasi parlementer.
Mengutip dari buku Explore Ilmu Pengetahuan Sosial Jilid 3 untuk SMP/MTs Kelas IX karya Wati (2019: 151), berikut adalah daftar kabinet yang pernah memerintah pada masa demokrasi parlementer di Indonesia:
Kabinet Moh. Natsir yang memerintah pada September 1950 – Maret 1951.
Kabinet Sukiman Wirjosandjojo yang memerintah pada April 1951 – Februari 1952.
Kabinet Wilopo yang memerintah pada Maret 1952 – Juni 1953.
Kabinet Ali Sastroamidjojo I yang memerintah pada Juli 1953 – Juli 1955.
Kabinet Burhanuddin Harahap yang memerintah pada Agustus 1955 – Maret 1956.
Kabinet Ali Sastroamidjojo II yang memerintah pada Maret 1956 – Maret 1957.
Kabinet Djuanda yang memerintah pada April 1957 – Juli 1959.
Pergantian kabinet yang terlalu sering tersebut kemudian mengakibatkan ketidakstabilan lain. Pada masa itu, banyak dari program kerja kabinet yang tidak dapat terlaksana dengan baik serta tidak berkesinambungan.
Demikian menjadi jelas bahwa penyebab ketidakstabilan politik pada tahun 1950-an adalah keberadaan sistem multipartai serta konflik antarpartai. Pada masa itu, Indonesia sedang menerapkan sistem demokrasi parlementer. (AA)
