Perbedaan Partikularisme dan Eksklusivisme Kelompok yang Wajib Dipahami

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Partikularisme dan eksklusivisme adalah dua kondisi yang berbeda. Salah satu perbedaan partikularisme dan eksklusivisme adalah dari segi pola interaksi sosial.
Manullang dalam Partikularisme Keselamatan dalam Masyarakat Multiagama mengungkapkan bahwa partikularisme adalah kondisi ketika seseorang tidak peduli dengan lingkungannya, sedangkan eksklusivisme adalah kondisi ketika seseorang merasa lebih baik daripada orang lain.
Untuk mengetahui lebih jauh seputar perbedaan partikularisme dan eksklusivisme, baca artikel ini sampai selesai.
Perbedaan Partikularisme dan Eksklusivisme
Partikularisme adalah kondisi yang dapat memicu terjadinya eksklusivisme, sehingga kedua hal ini memiliki perbedaan, seperti dari segi pola interaksi. Pada partikularisme, seseorang cenderung lebih mementingkan orang yang dikenal daripada orang lain.
Sementara itu, contoh eksklusivisme adalah seseorang ingin menarik diri dari kelompoknya. Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah.
1. Partikularisme
Partikularisme adalah suatu bentuk karakteristik atau paham yang membuat seseorang lebih mementingkan urusan pribadi daripada kepentingan umum. Hal ini dapat mencakup berbagai aspek, seperti politik, ekonomi, sosial, hingga budaya.
Sikap partikularisme umumnya dapat memicu konflik dengan pihak lain. Adapun ciri-ciri sikap partikularisme adalah mementingkan urusan pribadi, selalu berpikir rasional, mobilitas tinggi, dan mengedepankan logika.
Sikap partikularisme kelompok ini juga membawa beberapa dampak, di antaranya adalah.
Menimbulkan sikap eksklusivisme.
Tidak mempunyai rasa empati.
Terlalu egois.
Memiliki anggapan terhadap kelompok tertentu.
Meningkatkan keimanan terhadap Tuhan.
Sombong.
Memicu narsisme.
2. Eksklusivisme
Sementara itu, eksklusivisme adalah paham yang membuat seseorang memisahkan diri dari kelompoknya. Hal ini membuat seseorang cenderung menarik diri dari berbagai interaksi sosial dengan kelompoknya.
Di samping itu, seseorang dengan sikap eksklusivisme umumnya akan mencari seseorang yang seprinsip dengannya. Adapun beberapa ciri-ciri eksklusivisme kelompok adalah memiliki kontrol sosial yang kuat, magis religius, dan mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok sendiri.
Eksklusivisme kelompok juga memberikan sejumlah dampak. Adapun dampak eksklusivisme adalah:
Suatu kelompok atau individu menjadi lebih tertutup terhadap dunia lain.
Mampu membedakan diri sendiri dengan orang lain.
Menganggap jika kepentingan diri sendiri atau kelompoknya adalah yang paling utama.
Rentan terjadi konflik internal kelompok.
Demikian beberapa informasi seputar perbedaan partikularisme dan eksklusivisme. [ENF]
