Peristiwa Perebutan Gedung Sate antara Sekutu dan Rakyat Bandung

Sejarah dan Sosial
Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
Konten dari Pengguna
10 Maret 2024 20:09 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi peristiwa perebutan gedung sate, sumber foto: Reynaldo Yodia by pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peristiwa perebutan gedung sate, sumber foto: Reynaldo Yodia by pexels.com
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Peristiwa perebutan Gedung Sate merupakan bentuk perlawanan Belanda yang tidak diterima diusir dari Indonesia. Gedung ini terletak di Bandung, dibangun pertama kali pada 27 Juli 1920 dengan struktur rancangan oleh Ir. J. Gerber.
ADVERTISEMENT
Proses pembangunan gedung ini memakan waktu selama empat tahun lamanya, hingga tahun 1924. Setelah berhasil dibangun, Gedung Sate ini menjadi ikon Kota Bandung yang sempat diperebutkan Sekutu pada 3 Desember 1945.

Peristiwa Perebutan Gedung Sate

Ilustrasi peristiwa perebutan gedung sate, sumber foto: Muhammad Adib by pexels.com
Dikutip dari buku Mengenal Lebih Dekat: Bangunan Bersejarah Indonesia karya Nunung Marzuki, pada dasarnya, peristiwa perebutan Gedung Sate ini sebagai bentuk Belanda yang tidak terima diusir dari tanah air. Tidak hanya sendiri, tetapi Belanda bersama Inggris menghimpun kekuatan untuk merebut Gedung Sate.
Hal ini membuat para pemuda di Bandung berbondong-bondong mempersiapkan perlawanan, seperti membentuk organisasi gerakan Pemuda PU. Organisasi ini juga yang berhasil merebut Gedung Sate dari tangan Jepang.
Sedangkan upaya Belanda merebut Gedung Sate pecah pada 3 Desember 1945 dengan senjata lengkap. Namun hal ini tidak membuat pemuda PU menyerah begitu saja, mereka tetap berjuang mati-matian untuk mempertahankan Gedung Sate.
ADVERTISEMENT
Pertempuran ini memang tidak seimbang, hingga membuat tujuh orang pemuda kehilangan nyawa dari 21 orang pemuda. Pemuda tersebut yaitu Muchtaruddin, Didi Hardianto Kamarga, Rio Soesilo, Soegondo, Ranu, Soebengat, dan Soerjono.
Sedangkan beberapa orang lainnya mengalami luka-luka berat dan ada juga yang mengalami luka ringan. Jenazah ketujuh pemuda ini semula belum diketahui pasti.
Baru pada bulan Agustus 1952, beberapa kawan seperjuangan mencari jenazah mereka di sekitar Gedung Sate. Hasilnya hanya ada empat jenazah yang berhasil ditemukan meski sudah berupa kerangka.
Kemudian keempat kerangka tersebut dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Sedangkan tiga orang yang belum ditemukan sudah dibuatkan dua tanda peringatan di dalam Gedung Sate dan halaman belakang Gedung Sate.
ADVERTISEMENT
Halaman belakang tersebut ada sebuah batu alam dengan tulisan nama-nama ketujuh orang pahlawan. Bahkan diperingati juga sebagai Hari Bakti PU sebab berlatar sejarah pertempuran melawan sekutu di Gedung Sate.
Dapat disimpulkan bahwa peristiwa perebutan Gedung Sate memang memiliki sejarah mendalam dan sebagai bentuk perjuangan para pemuda Bandung. (DSI)