Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.94.1
Konten dari Pengguna
Prasasti Wurare Peninggalan Kerajaan Singasari yang Menarik Diulik
15 Februari 2024 22:59 WIB
·
waktu baca 2 menitTulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Agar semakin paham, simak dalam pembahasan berikut ini!
Penemuan Prasasti Wurare
Prasasti Wurare ditemukan di Desa Kandang Gajah, Trowulan, Mojokerto. Prasasti ini ditulis menggunakan bahasa Sansekerta dan bertarikh 1211 Saka atau November 1289 M serta terpahat melingkar di samping Arca Buddhis.
Arca Buddhis atau dikenal masyarakat sebagai Arca Joko Dholog dijadikan sebagai penghormatan dan perlambangan terhadap Raja Kertanegara dari kerajaan Singasari. Raja Kertanegara dianggap oleh keturunanya telah mencapai derajat Jina (Buddha Agung).
Arca Joko Dholog pada tahun 1817 telah dipindahkan menuju Surabaya oleh Residen Baron A.M. Th. de Salis dan sekarang berada di Taman Apsari Surabaya, Jawa Timur.
Isi dan Makna Prasasti Wurare
Prasasti Wurare dibuat tiga tahun sebelum kematian Raja Kertanegara pada tahun 1292 karena serangan dari Jayakatwang. Prasasti Wurare mempunyai 19 baris tulisan dalam Bahasa Sansekerta dan memuat berbagai informasi penting.
ADVERTISEMENT
Otto Sukatno CR. dan Untung Mulyono dalam buku berjudul Pararaton: Menguak Jejak Geneologi Sejarah Wangsa Jawa dari Tarumanegara hingga Majapahit menjelaskan bahwa isi dari Prasasti Wurare adalah pujian yang ditujukan untuk Raja Kertanegara.
Prasasti Wurare adalah sebuah prasasti yang isinya tentang memperingati penobatan arca Mahaksobhya atau Arca Joko Dholog di sebuah lokasi bernama Wurare (hal inilah kenapa prasasti ini dikenal sebagai Prasasti Wurare).
Adapun runtutan isi dari Prasasti Wurare, pada bagian pembukaan pada Prasasti Wurare menggunakan puji-pujian kepada Buddha dan pendeta utama yang sakti, yakni “Aryya Bharad”.
Selanjutnya, prasasti ini menjelaskan adanya pembagian daratan Jawa menjadi Panjalu dan Jenggala dengan tujuan menghindari perselisihan dan permusuhan dua pangeran. Pembagian tersebut dilakukan oleh Aryya Bharad menggunakan air ajaib dari kendinya.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya dalam Prasasti Wurare menjelaskan juga tentang Jenggala dan Panjalu yang berhasil disatukan pada masa Jaya Sri Wisnuwardhana dengan permaisurinya yang bernama Sri Jayawardhani.
Makna isi selanjutnya adalah Sri Jnanasiwabajra atau Raja Kertanegara yang merupakan Jaya Sri Wisnuwardhana dengan Sri Jayawardhani, dijelaskan sebagai raja dari empat terluas ilmunya serta terbaik dari seluruhnya.
Itulah informasi menarik tentang Prasasti Wurare yang perlu diketahui. Semoga bermanfaat! (eK)