Propaganda Politik Jepang di Indonesia: Tujuan, Bentuk, dan Dampaknya

Sejarah dan Sosial
Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
Konten dari Pengguna
2 Maret 2024 21:07 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi propaganda politik Jepang di Indonesia. Foto: Engin Akyurt/Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi propaganda politik Jepang di Indonesia. Foto: Engin Akyurt/Unsplash
ADVERTISEMENT
Propaganda politik Jepang di Indonesia dilakukan dengan berbagai cara. Baik memanfaatkan media massa, membentuk organisasi, atau melalui pendidikan.
ADVERTISEMENT
Simak propaganda politik Jepang di Indonesia, tujuan, hingga dampaknya pada ulasan di bawah ini.

Tujuan dan Dampak Propaganda Politik Jepang di Indonesia

Ilustrasi propaganda politik Jepang di Indonesia. Foto: UX Gun/Unsplash
Dilansir dari situs an-nur.ac.id, masa pendudukan Jepang di Indonesia berlangsung antara tahun 1942-1945. Mulanya kedatangan mereka disambut baik oleh rakyat pribumi karena dianggap sudah berhasil mengusir Belanda. Saat itu Jepang pun sedang terlibat dalam Perang Asia Timur Raya.
Untuk menarik dukungan serta simpati warga Indonesia, Jepang lantas melakukan berbagai propaganda. Salah satunya, menyatakan bahwa Jepang mengobarkan Perang Asia Timur Raya guna mengusir penjajah Barat dari seluruh Asia.
Berikut berbagai propaganda politik Jepang di Indonesia, tujuan, sampai dampaknya:

1. Tujuan Propaganda

Tujuan propaganda yang dilakukan Jepang di Indonesia antara lain memperoleh dukungan dan simpati rakyat, memobilisasi orang-orang pribumi untuk kepentingan Jepang, menanamkan rasa persaudaraan di Asia, menciptakan rasa kebencian pada pihak barat, dan memperkuat pengakuan Jepang sebagai pemimpin di Asia.
ADVERTISEMENT

2. Bentuk Propaganda

Propaganda lewat organisasi: propaganda Jepang dilakukan lewat organisasi seperti Gerakan 3 A yang mengusung semboyan Nippon Cahaya Asia, Nippon Pemimpin Asia, dan Nippon Pelindung Asia. Para anggota gerakan ini harus mengikuti berbagai aktivitas indoktrinasi hingga menghafalkan berbagai slogan Jepang.
Selain itu ada pula Chuo Sangi In (Dewan Penasihat Pusat) yang dibentuk dengan tujuan supaya memberi kesan adanya partisipasi rakyat dalam pemerintahan, dan Putera (Pusat Tenaga Rakyat) yang diketuai beberapa tokoh nasional seperti Soekarno-Hatta yang dibentuk guna mendukung upaya perang dari pihak Jepang.
Propaganda lewat media massa: majalah, koran, surat kabar, siaran radio, film propaganda, poster, dan pamflet menjadi media propaganda Jepang di Indonesia. Sebagai contoh, surat kabar Asia Raya dan Tjahaja, film “Nippon no Seishin” (Semangat Nippon) serta “Asia no Hikari” (Cahaya Asia), poster, hingga pamflet, berisi pesan-pesan propaganda yang terus diulang.
ADVERTISEMENT
Propaganda lewat pendidikan: propaganda melalui pendidikan diawali dengan pemakaian bahasa Jepang sebagai bahasa resmi, menanamkan nilai-nilai Jepang di sekolah, serta pemaksaan terhadap rakyat agar tunduk dan setia pada Tenno yang disebut-sebut sebagai simbol persatuan Asia juga pemimpin para dewa.
Propaganda saudara tua: sejak menduduki Indonesia pada 1942, Jepang berusaha untuk meraih simpati rakyat dengan melakukan berbagai propaganda. Salah satunya yaitu mengaku sebagai saudara tua Indonesia. Untuk menggerakan dukungan, pihak Jepang mengatakan akan berusaha memperbaiki nasib rakyat.

3. Dampak Propaganda

Dampak negatif propaganda antara lain terjadinya penindasan, perpecahan, keterbelakangan sosial juga ekonomi, dan kebencian pada pihak barat.
Sementara dampak positifnya yaitu memberi pengalaman berpolitik bagi bangsa Indonesia, peningkatan pendidikan, literasi, munculnya semangat kebangsaan, juga semangat kemerdekaan.
ADVERTISEMENT
Itulah propaganda politik Jepang di Indonesia, tujuan, dan dampaknya yang penting diketahui. Propaganda dilakukan guna menarik simpati sekaligus dukungan rakyat kepada Jepang. (DN)