Prosesi Upacara Adat Sekaten di Yogyakarta dan Asal Usulnya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekaten adalah salah satu budaya asal Yogyakarta yang dilakukan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Prosesi upacara adat sekaten di Yogyakarta dilaksanakan selama tujuh hari.
Purwaningsih dalam Upacara Tradisional Sekaten menyebutkan bahwa upacara sekaten ditutup tanggal 12 Rabi'ul Awal dengan pelaksanaan Garebeg Mulud.
Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai prosesi upacara adat sekaten di Yogyakarta, simak selengkapnya dalam bacaan berikut ini.
Sejarah Sekaten di Yogyakarta
Sebelum mengetahui prosesi upacara adat sekaten di Yogyakarta, sebaiknya pahami dulu sejarahnya terlebih dulu. Sekaten berasal dari kata sekati yang termasuk nama perangkat gamelan pusaka keraton.
Sejarah sekaten bermula dari penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga di Kerajaan Demak. Saat itu, masih banyak masyarakat yang menganut kepercayaan Hindu serta Buddha.
Untuk itu, Sunan Kalijaga berupaya menarik perhatian masyarakat dengan menciptakan lagu disertai iringan gamelan. Hal ini berhasil menarik perhatian masyarakat dan membimbing mereka untuk mengucap kalimat syahadat.
Prosesi Upacara Adat Sekaten di Yogyakarta
Upacara adat sekaten dilaksanakan setiap tanggal 5-11 Rabi'ul Awal dan ditutup tanggal 12 Rabi'ul Awal dengan Garebeg Mulud. Jadi, upacara adat sekaten di Yogyakarta diselenggarakan selama kurang lebih 7 hari. Adapun prosesi upacara adat sekaten di Yogyakarta adalah:
Membunyikan gamelan di jam 16.00-23.00 tanggal 5 Rabi'ul Awal.
Gamelan akan dipindah menuju pagongan di halaman masjid besar pukul 23.00.
Sri Sultan akan hadir ke serambi masjid besar bersamaan dengan para pengiringnya. Hal ini dilakukan untuk mendengar pembacaan riwayat kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 11 Rabi'ul Awal.
Gamelan dikembalikan ke keraton sebagai tanda jika upacara sekaten telah berakhir.
Selain tahapan di atas, ada pula acara Garebeg Mulud dan Numpak Wajik yang dilakukan sepanjang acara sekaten:
Garebeg Mulud dilakukan tanggal 12 Rabi'ul Awal sebagai acara puncaknya. Pelaksanaannya dimulai jam 08.00-10.00 dengan kawalan 10 kompi prajurit keraton.
Numpak Wajik adalah acara yang dilakukan 2 hari sebelum Garebeg Mulud di Istana Magangan jam 16.00. Upacara ini berisi permainan lagu dengan lumping, kentongan, maupun alat lainnya.
Demikian informasi mengenai sejarah dan prosesi upacara adat sekaten di Yogyakarta. [ENF]
