Konten dari Pengguna

Rumah Adat Sasadu, Warisan Budaya Suku Sahu

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Rumah Adat Sasadu, Warisan Budaya Suku Sahu, Unsplash/Илья Мельниченко
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Rumah Adat Sasadu, Warisan Budaya Suku Sahu, Unsplash/Илья Мельниченко

Rumah adat Sasadu memiliki desain unik dengan struktur terbuka yang memungkinkan sirkulasi udara tetap lancar. Dibangun oleh suku Sahu di Halmahera, Maluku Utara, rumah ini mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan dalam masyarakat.

Selain sebagai tempat tinggal, Sasadu juga digunakan untuk berbagai kegiatan adat dan musyawarah, menjadikannya bagian penting dalam kehidupan sosial suku Sahu.

Rumah Adat Sasadu

Ilustrasi Rumah Adat Sasadu, Unsplash/Jonathan Lim

Mengutip dari buku Fakta Menakjubkan Tentang Indonesia; Wisata Sejarah, Budaya, dan Alam di 33 Provinsi, Navita Kristi, dkk., (2012), rumah adat sasadu adalah rumah tradisional masyarakat suku Sahu di Halmahera Barat, Maluku Utara.

Bangunan ini memiliki peran sentral dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat, berfungsi sebagai tempat pelaksanaan berbagai ritual adat, pertemuan, penjamuan tamu, acara pernikahan, hingga musyawarah adat.

Secara arsitektural, sasadu memiliki ciri khas sebagai berikut ini.

1. Struktur Terbuka

Tidak memiliki dinding pada keenam sisinya, mencerminkan keterbukaan dan keramahan masyarakat suku Sahu dalam menyambut siapa saja yang datang.

2. Atap

Terbuat dari anyaman daun sagu yang dikeringkan, dengan bubungan atap menjulang tinggi pada kedua ujungnya.

Pada ujung-ujung atap tersebut terdapat ukiran kayu berbentuk haluan dan buritan perahu, melambangkan hubungan erat masyarakat dengan kehidupan maritim.

3. Tiang dan Konstruksi

Tiang-tiang penyangga utama (ngasu u lamo) berjumlah delapan, terbuat dari kayu pohon sagu.

Konstruksi bangunan ini unik karena tidak menggunakan paku atau sekrup, melainkan mengandalkan pasak kayu dan tali ijuk sebagai pengikat, menunjukkan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam sekitar.

4. Lantai

Terdiri dari timbunan tanah yang dipadatkan setinggi 30 hingga 40 sentimeter, ditopang oleh susunan batu kali berbentuk segi delapan sebagai penahan.

Selain fungsi utamanya sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah, Sasadu juga digunakan untuk berbagai upacara adat, seperti perayaan panen yang dikenal dengan sebutan "Sibere Wanat".

Upacara ini merupakan ekspresi syukur atas hasil panen yang melimpah dan melibatkan seluruh komunitas dalam perayaan yang penuh makna.

Dengan desain yang sarat makna filosofis dan fungsi multifungsi dalam kehidupan masyarakat suku Sahu, rumah adat sasadu menjadi simbol penting dari identitas budaya dan kearifan lokal yang terus dilestarikan hingga kini.

Itulah penjelasan mengenai rumah adat sasadu, yang menjadi warisan budaya suku Sahu.

Baca Juga: Rumah Adat Aceh: Keindahan Arsitektur Tradisional yang Sarat Makna