Konten dari Pengguna

Rumah Adat Suku Bugis dan Fakta Menariknya

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi rumah adat suku Bugis. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi rumah adat suku Bugis. Foto: Pixabay

Rumah adat suku Bugis memiliki keunikan tersendiri. Rumah ini merupakan rumah panggung, tetapi berbeda dengan yang ada di Sumatra dan Kalimantan.

Artikel ini akan membahas lebih lanjut tentang rumah adat suku Bugis dan fakta menariknya berdasarkan buku Mengenal Suku-Suku di Indonesia karya Wahyudi Wijayanto.

Rumah Adat Suku Bugis

Ilustrasi rumah adat suku Bugis. Foto: Pixabay

Rumah adat suku Bugis memiliki nama Bola Soba yang berarti rumah sahabat. Awalnya, rumah ini berfungsi sebagai tempat tinggal raja dan keluarga.

Selain itu, rumah adat suku Bugis juga menunjang lambang kebesaran masyarakat dalam menjunjung nilai utama manusia dan budaya Bugis yang dikenal dengan istilah Sulapa Eppa.

Rumah adat suku Bugis adalah rumah panggung yang memiliki bentuk memanjang ke belakang, dengan tambahan di samping bangunan utama dan depan yang disebut lego-lego.

Tiang utama terdiri dari 4 batang yang setiap barisnya tergantung pula dengan jumlah ruangan yang akan dibuat. Selain itu, rumah ini juga memiliki bagian penyambung dari alliri di setiap baris yang disebut fadongko.

Sedangkan, pengait paling atas dari alliri paling tengah tiap baris disebut fattoppo. Lebih lanjut, berikut adalah bagian dari dalam rumah adat Bugis, yaitu:

  1. Rakkeang, yaitu bagian di atas langit-langit yang dulu digunakan sebagai penyimpanan padi setelah panen.

  2. Ale Bola, yakni bagian tengah rumah yang merupakan titik sentral yang bernama pusat rumah atau posi’ bola.

  3. Awa Bola, yaitu bagian bawah rumah antara lantai rumah dan tanah.

Selain rumah panggung, suku Bugis juga dikenal dengan rumah mengapung, seperti yang tertulis pada buku Rumah Mengapung Suku Bugis karya Naidah Naing.

Rumah mengapung banyak dipilih oleh suku Bugis yang memang banyak bekerja sebagai nelayan dengan lokasi tempat tinggal di wilayah pesisir.

Dalam membangun rumah adat, masyarakat Bugis juga mempertimbangkan beberapa aspek, yakni beberapa kebutuhan dasar, struktur keluarga, posisi wanita, privasi, dan hubungan sosial.

Sumber lain juga mengatakan kalau pembentukan ruang rumah tradisional Bugis mengandung nilai kesatuan hidup keluarga karena semua ukuran pembentuk ruang diambil dari ukuran suami dan istri.

Demikian adalah pembahasan tentang rumah adat suku Bugis dan berbagai fakta menarik yang meliputinya. (SP)