Konten dari Pengguna

Sejarah Bubur Suro, Hidangan Khas Tradisional Jawa

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sejarah Bubur Suro, Unsplash/Mae Mu
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sejarah Bubur Suro, Unsplash/Mae Mu

Sejarah bubur suro menjadi bagian penting dalam tradisi yang dijalankan setiap menyambut malam 1 Suro. Bubur suro diketahui diambil dari kata ‘Asyuro’ dan sangat dikenal di kalangan masyarakat Muslim di Jawa.

Bubur ini terbuat dari beras yang dimasak dengan aneka bumbu dan berbagai rempah tradisional seperti serai, santan, dan daun salam yang menjadikan rasanya lebih gurih dibandingkan bubur biasanya.

Sajian bubur ini mempunyai tampilan dan lauk yang berbeda-beda tergantung daerahnya. Menariknya, harus ada 7 jenis kacang yang ada dalam sepiring bubur suro.

Sejarah Bubur Suro

Ilustrasi Sejarah Bubur Suro, Unsplash/Charles Chen

Dikutip dari buku Jelajah Kuliner Nusantara, Teguh Sudarisman, dkk., (2023:126) dan situs indonesia.go.id, dalam sejarah bubur suro, pada awalnya bubur ini dihadirkan untuk memperingati hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro.

Disebutkan bahwa seperti sajian yang dihidangkan saat upacara adat Jawa lainnya, bubur ini merupakan lambang syukur kepada Allah Swt atas rezeki dan berkah yang diperoleh.

Konon, bubur ini telah ada sejak Sultan Agung bertahta di Jawa tetapi terlepas dari apapun itu, bubur suro adalah refleksi dari masyarakat Jawa atas rezeki yang diberikan Allah Swt.

Menurut sumber lain tentang sejarah bubur suro, bubur ini adalah bubur yang disajikan untuk memperingati hari Nabi Nuh selamat dari banjir besar yang melanda dunia. Kapal tersebut akhirnya menemukan daratan setelah 40 hari mengarungi lautan.

Cerita berawal pada saat itu Nabi Nuh sedang bertanya kepada para sahabat apakah masih ada makanan sisa di dalam kapal yang dijawab iya oleh sang sahabat. Dia kemudian menyebutkan bahan yang tersisa dan bahan-bahan tersebut lalu dimasak bersamaan.

Telah menjadi tradisi lisan di seluruh dunia bagaimana semua penumpang kapal Nabi Nuh menikmati makanan terakhir yang dibuat dari sisa bahan yang ada yang diolah menjadi bubur. Tujuannya agar cukup untuk semua orang. Inilah yang menjadi cikal bakal bubur suro.

Sejarah bubur suro mencerminkan perpaduan antara nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal yang terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya spiritual masyarakat. (Mey)

Baca juga: Kenapa Malam 1 Suro Tidak Boleh Keluar? Ini Penjelasannya