Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Sejarah Halal Bihalal di Indonesia yang Dicetuskan Tokoh NU
27 Maret 2025 19:33 WIB
·
waktu baca 2 menitTulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Sejarah halal bihalal adalah tradisi khas Indonesia yang identik dengan momen saling memaafkan setelah Hari Raya Idulfitri. Belum banyak yang mengetahui bahwa tradisi ini berawal dari gagasan seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU).
ADVERTISEMENT
Dikutip dari nu.or.id, istilah “halal bihalal” sendiri berasal dari kata halal, yang berarti sah atau diperbolehkan dalam hukum Islam.
Sejarah Halal Bihalal di Indonesia
Sejarah halal bihalal dan tradisinya di Indonesia tidak lepas dari peran Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah, seorang ulama besar dan pendiri NU.
Pada tahun 1948, Indonesia sedang mengalami krisis politik dan perpecahan di kalangan elite nasional pasca-kemerdekaan. Presiden Soekarno pun mencari solusi untuk meredakan ketegangan politik yang kian memanas.
Dalam situasi tersebut, Soekarno meminta saran kepada KH. Wahab Hasbullah. Beliau menyarankan untuk mengadakan pertemuan dengan para pemimpin bangsa dalam suasana yang lebih santai, yaitu momen Idulfitri. KH.
KH. Wahab Hasbullah mengusulkan istilah “halal bihalal” sebagai simbol saling memaafkan dan mempererat silaturahmi.
ADVERTISEMENT
Secara filosofis, halal bihalal bermakna upaya untuk saling membersihkan diri dari kesalahan dan dosa, serta memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang.
KH. Wahab Hasbullah mengutip konsep ini untuk mendorong para pemimpin bangsa agar mengesampingkan perbedaan dan kembali bersatu demi kepentingan negara.
Tradisi ini kemudian diterima dengan baik oleh Soekarno dan menjadi kebiasaan yang terus berlanjut hingga sekarang.
Awalnya, halal bihalal hanya dilakukan di kalangan elite politik. Namun, tradisi ini dengan cepat merambah ke masyarakat luas, khususnya di lingkungan pesantren dan organisasi keislaman seperti NU.
Lambat laun, halal bihalal menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di berbagai daerah di Indonesia.
Kini, halal bihalal tidak hanya menjadi momen untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial di berbagai komunitas, mulai dari keluarga, lingkungan kerja, hingga komunitas lainnya.
ADVERTISEMENT
Tradisi halal bihalal yang dikenal saat ini ternyata berakar dari gagasan KH. Wahab Hasbullah, seorang tokoh besar NU yang berperan penting dalam menjaga persatuan bangsa.
Melalui sejarah halal bihalal, beliau mengajarkan nilai-nilai luhur tentang pentingnya memaafkan, menjaga persaudaraan, dan merajut kembali hubungan yang mungkin sempat renggang. (Aya)