Konten dari Pengguna

Sejarah Jalan Ahmad Yani Banjarmasin yang Menarik untuk Disimak

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sejarah Jalan Ahmad Yani Banjarmasin, Unsplash/Surya Ahmad Pajar
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sejarah Jalan Ahmad Yani Banjarmasin, Unsplash/Surya Ahmad Pajar

Sejarah Jalan Ahmad Yani Banjarmasin mencerminkan perjalanan panjang transformasi kota dari masa kolonial hingga era modern.

Jalan Ahmad Yani di Banjarmasin adalah salah satu ruas jalan terpenting yang membentang dari pusat kota hingga ke wilayah luar, seperti Banjarbaru dan Martapura.

Sebelum menjadi jalur utama seperti sekarang, jalan ini mempunyai sejarah yang panjang sejak masa kolonial Belanda.

Sejarah Jalan Ahmad Yani Banjarmasin

Ilustrasi Sejarah Jalan Ahmad Yani Banjarmasin, Unsplash/Declan Sun

Sejarah Jalan Ahmad Yani Banjarmasin berawal dari era Hindia Belanda, di mana sekitar awal tahun 1930-an, pemerintah kolonial mulai membangun infrastruktur jalan darat.

Hal tersebut dilakukan sebagai pelengkap dari jalur sungai yang telah lebih dahulu digunakan sebagai rute utama transportasi.

Jalur sungai saat ini dinilai semakin tidak memadai karena rawan longsor, sempit, dan sulit dipelihara.

Sebagai solusinya, sebuah jalan penghubung dari Banjarmasin menuju Martapura dan Hulu Sungai dibangun. Jalan ini dikenal sebagai Jalan Ulin (atau Oelinweg), yang kelak menjadi Jalan Ahmad Yani.

Dikutip dari situs idr.uin-antasari.ac.id, Kota Banjarmasin adalah kota yang cukup luas dan mempunyai 5 kecamatan.

Dalam sejarah Jalan Ahmad Yani Banjarmasin, di sisi kiri dan kanan jalan juga dibangun kanal air untuk memperlancar drainase dan pergerakan logistik, yang kemudian dikenal sebagai Kanal Ulin.

Pada awalnya, jalan ini hanyalah jalan pos yang kasar dan tidak beraspal tetapi pada tahun 1938-1939, mulai dilakukan pelebaran, perbaikan besar-besaran hingga tahap pengaspalan secara menyeluruh.

Proyek ini sekaligus menandai transformasi sistem transportasi Banjarmasin dari jalur air menuju jalur darat. Yang menarik adalah pembangunan jalan ini banyak menggunakan batang pohon galam sebagai pondasi dasar, terutama di wilayah-wilayah rawa yang labil.

Disebutkan ini adalah teknik lokal yang cukup efektif di era tersebut karena pohon galam terkenal tahan terhadap genangan air dan mampu memperkokoh struktur jalan.

Setelah Indonesia merdeka, Jalan Ulin tetap dipakai hingga memasuki era Orde Baru. Baru pada tahun 1970-an, dalam rangka pelaksanaan masterplan Pelita I, nama Jalan Ulin resmi diubah menjadi Jalan Jenderal Ahmad Yani.

Hal itu bertujuan untuk mengenang salah satu pahlawan revolusi Indonesia. Seiring pergantian nama, kawasan ini kemudian mengalami lonjakan pembangunan.

Sejarah Jalan Ahmad Yani Banjarmasin tidak hanya merekam jejak fisik dari sebuah jalan protokol tetapi juga mencerminkan dinamika peradaban kota yang terus berkembang. (Mey)

Baca juga: Sejarah Jalan Hang Tuah, Jejak Pahlawan di Tengah Riuh Ibu Kota