Sejarah Jalan Casablanca Jakarta, Lahan Terbuka yang Jadi Pusat Bisnis

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Jalan Casablanca Jakarta merupakan bagian dari dinamika pembangunan kota yang terus berubah sejak masa kemerdekaan.
Jalan ini kini dikenal sebagai salah satu ruas utama dengan lalu lintas padat dan pusat bisnis yang ramai. Keberadaannya menjadi saksi dari berbagai peristiwa sosial, budaya, hingga kerja sama internasional.
Sejarah Jalan Casablanca Jakarta
Dikutip dari p2k.stekom.ac.id, sejarah Jalan Casablanca Jakarta bermula dari hubungan diplomatik antara Indonesia dan Maroko yang dijalin pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Dalam kunjungannya ke Maroko pada tahun 1960-an, Presiden Soekarno bertemu Raja Hassan II dan sepakat menjalin kerja sama melalui program kota kembar atau sister city.
Hasil dari kerja sama ini diimplementasikan dalam bentuk penamaan jalan di Casablanca dengan nama-nama yang terinspirasi dari Indonesia seperti Rue Jakarta, Rue Bandoeng, dan Avenue Soekarno.
Sebagai balasan, Indonesia juga menamai salah satu ruas jalan penting di Jakarta dengan nama Casablanca, yang kelak dikenal sebagai Jalan Casablanca.
Penamaan ini bukan hanya simbol persahabatan antarnegara, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap kerja sama internasional di bidang diplomasi kota.
Pembangunan Jalan Casablanca baru dilakukan puluhan tahun setelah penamaan tersebut mulai dikenal.
Pada pertengahan dekade 1990-an, jalan ini resmi dibuka dan dioperasikan, meskipun pembangunannya tidak lepas dari sejumlah kontroversi.
Salah satu tantangan utama adalah pembangunan jalan yang harus melintasi kawasan pemakaman tua peninggalan masa Hindia Belanda.
Sebagian tanah pemakaman harus dibongkar untuk memberi ruang bagi proyek infrastruktur tersebut.
Proses pemindahan makam dilakukan dengan kompensasi kepada ahli waris atau keluarga yang terdata, sementara sebagian lainnya dipindahkan ke lokasi pemakaman baru.
Pembangunan Jalan Casablanca menandai fase baru pertumbuhan wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, khususnya dalam menghubungkan titik-titik penting seperti Kampung Melayu dan Kuningan.
Dalam perjalanan waktu, sejarah Jalan Casablanca Jakarta juga diperkaya oleh cerita rakyat dan urban legend yang muncul dari masyarakat sekitar.
Salah satu kisah paling populer berkaitan dengan Terowongan Casablanca yang dibangun di atas bekas kawasan makam Menteng Pulo.
Terowongan ini sering dikaitkan dengan kejadian kecelakaan lalu lintas yang dianggap tidak biasa, hingga muncul anggapan mistis tentang adanya penampakan atau energi gaib di lokasi tersebut.
Budayawan lokal seperti Yahya Andi Saputra mencatat bahwa cerita-cerita tersebut menambah warna khas dalam narasi kehidupan kota Jakarta.
Keberadaan kisah mistis ini menjadikan Jalan Casablanca bukan hanya sekadar jalur lalu lintas, tetapi juga ruang yang penuh dengan makna simbolik dan naratif bagi masyarakat urban.
Jalan Casablanca juga berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi dan transportasi. Saat ini, di sepanjang jalan tersebut berdiri pusat perbelanjaan besar seperti Kota Kasablanka, serta sejumlah gedung perkantoran dan hunian mewah.
Layanan transportasi umum seperti Transjakarta dan Mikrotrans melayani rute ini secara intensif karena tingginya mobilitas warga di kawasan tersebut.
Persimpangan utama seperti Pal Batu dan Rasuna Said menjadikan Jalan Casablanca sebagai titik strategis penghubung antara wilayah timur dan pusat kota Jakarta.
Selain itu, jalan ini juga menjadi akses penting menuju kawasan Mega Kuningan dan Sudirman Central Business District (SCBD), menjadikannya bagian dari denyut utama kehidupan metropolitan Jakarta.
Hingga kini, sejarah Jalan Casablanca Jakarta tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari proses urbanisasi dan pembangunan ibu kota.
Jalan ini tidak hanya mencerminkan koneksi fisik antarkawasan, tetapi juga menjadi representasi dari hubungan diplomatik, memori kolektif, dan simbol modernitas Jakarta. (Shofia)
Baca Juga: Sejarah Air Terjun Dolo Kediri yang Tersembunyi di kaki Gunung Wilis
