Sejarah Jalan Dhoho Kediri dan Kuliner di Sekitarnya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jalan Dhoho merupakan urat nadi kota Kediri yang telah menyimpan banyak cerita sejarah sejak masa kolonial Belanda. Sebagai salah satu kawasan tertua di kota ini, sejarah Jalan Dhoho Kediri dahulu dikenal sebagai pusat perdagangan dan interaksi masyarakat lintas etnis.
Jalan ini mencerminkan perpaduan antara warisan masa lalu dan dinamika modern. Sejarahnya yang panjang menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat akar budaya Kediri.
Sejarah Jalan Dhoho Kediri
Terdapat berbgai hal menarik mengenai Jalan Dhoho Kediri. Berikut adalah sejarah Jalan Dhoho Kediri dan kuliner di sekitarnya berdasarkan situs web kedirikota.go.id.
Jalan Dhoho di Kota Kediri memiliki sejarah panjang yang kaya. Nama Jalan Dhoho sendiri dipercaya berasal dari kata "Dahanapura", yang berarti "Kota Api" dan merupakan ibu kota kerajaan Kediri pada masa itu.
Jalan Dhoho merupakan salah satu ikon urban di kota Kediri yang sarat makna historis dan sosial. Jalan Dhoho telah lama menjadi pusat ekonomi dan budaya.
Di pagi hari, trotoar dihiasi gerobak jajanan seperti pecel, nasi goreng khas Kediri, dan dimsum. Saat malam hari jalanan berubah menjadi ruang sosial penuh musik, puisi dan pertunjukan jalanan.
Antropolog dan sejarawan lokal menyatakan bahwa semangat ini mirip dengan Jalan Malioboro di Yogyakarta.
Jalan Dhoho bertransformasi dari sekadar pusat perekonomian menjadi episentrum kebudayaan.
Perkembangan pasar kuliner di Jalan Dhoho tak lepas dari sejarah perkembangan kota. Pada awal abad ke‑20, perusahaan penerbitan seperti Boekhandel Tan Khoen Swie mendirikan percetakan terkenal, memproduksi ratusan judul buku.
Kehadiran bisnis penerbitan ini menegaskan peran Jalan Dhoho bukan hanya sebagai pusat perdagangan, tetapi jantung peradaban intelektual di Kediri. Kini, kenangan musik jalanan, teater improvisasi, dan seniman mural memberi nuansa tak terlupakan.
Jalan Dhoho tampil sebagai potensi destinasi pariwisata integratif. Mengangkat kembali kegiatan budaya dan memadukannya dengan penghidangan kuliner tradisional bisa menjadikannya kawasan heritage kuliner dan budaya.
Selain nilai historisnya, Jalan Dhoho juga terkenal sebagai surga kuliner yang tak pernah sepi pengunjung. Berbagai hidangan khas Kediri seperti tahu takwa, nasi pecel tumpang, dan soto Kediri bisa dengan mudah ditemukan di sepanjang jalan ini.
Tidak hanya makanan tradisional, beragam sajian modern juga hadir melengkapi keanekaragaman rasa yang ditawarkan.
Perpaduan sejarah Jalan Dhoho Kediri dan cita rasa kuliner tradisional menjadikannya sebagai destinasi yang wajib dikunjungi bagi wisatawan.
Baca juga: Sejarah Nama Jalan Malioboro, Artinya Karangan Bunga?
