Sejarah Jalan Kopo Bandung dan Asal-usul Penamaannya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Jalan Kopo adalah menjadi latar belakang salah satu jalur utama di Bandung. Jalan ini yang membentang dari Astana Anyar (Kota Bandung) hingga Soreang (Kabupaten Bandung).
Dikutip dari laman p2k.stekom.ac.id, selama ini, jalur ini dikenal sebagai akses vital, terutama menuju kawasan wisata seperti Pangalengan dan Ciwidey, serta sering menjadi titik macet parah saat liburan.
Sejarah Jalan Kopo Bandung
Sejarah jalan Kopo, diawali nama Kopo yang berasal dari sosok legendaris, yaitu Eyang Jawi atau yang juga dikenal Eyang Kuwu. Ia adalah jawara sekaligus kepala desa pertama di kawasan tersebut, sebelum tahun 1923.
Eyang Jawi merintis pembangunan jalan dari Blok Tempe (Panjunan) hingga Kampung Pangauban (sekarang Wilayah Desa Katapang) dengan pengorbanan besar baik tenaga, harta, bahkan nyawa.
Nama Jalan Kopo juga dihubungkan dengan pohon jambu besar yang disebut pohon jambu Kopo, yang berada di kediaman Eyang Jawi. Sebagai penghormatan atas jasanya, masyarakat menamakan jalan ini dengan istilah “Kopo”.
Selain itu, ada kisah lisan yang menyebutkan bahwa warga awalnya mengatakan “jalan ka Kopo” (menuju Kopo), mengacu pada desa Eyang Jawi. Ungkapan ini lama-lama berubah menjadi “Jalan Kopo”.
1. Perkembangan Administratif dan Infrastruktur
Tahun 1923 menjadi tonggak penting, ketika Desa Muara dan Desa Kopo digabung. Kepala desa pertamanya adalah Mohammad Isak (dikenal “Apa Pabrik”) yang mendirikan pabrik penggilingan padi pertama di kawasan tersebut.
Gabungan desa ini akhirnya dinamakan Desa Kopo, dengan pusat pemerintahan di Kampung Kopo.
Seiring pertumbuhan kawasan, jalan tersebut secara resmi diubah namanya menjadi Jalan KH. Wahid Hasyim, sebagai penghormatan pada pendiri NU. Namun, masyarakat setempat tetap menyebutnya Jalan Kopo karena sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari.
2. Jalan Kopo dari Masa Kolonial Hingga Kini
Pada era kolonial Belanda, Jalan Kopo berfungsi sebagai jalur penghubung antar perkebunan di Soreang dan Ciwidey menuju pusat kota Bandung.
Bahkan kereta api Bandung–Ciwidey dibuka sekitar tahun 1921, termasuk segmen Bandung–Kopo, melengkapi peran Jalan Kopo dalam distribusi komoditas seperti teh dan kopi.
Saat ini, Jalan Kopo tidak hanya padat kendaraan, tetapi juga berkembang pesat dengan hadirnya berbagai kafe, resort, dan fasilitas komersial sepanjang rute tersebut.
Munculnya pusat-pusat baru ini menciptakan peluang ekonomi lokal dan mengurangi kebutuhan warga setempat untuk pergi ke pusat kota.
Meski diganti secara resmi, sebutan Kopo tetap hidup di hati masyarakat Bandung menjadi simbol identitas dan sejarah wilayah selatan Bandung.
Sejarah Jalan Kopo bukan sekadar nama jalan biasa. Jalan ini menyimpan kisah inspiratif tentang Eyang Jawi, keteguhan masyarakat membangun infrastruktur, serta penghormatan lewat penamaan berdasarkan lokalitas dan kisah rakyat. (Aya)
Baca juga: Mitos Curug Nangka, Air Terjun Indah yang Konon Dihuni Makhluk Gaib
