Sejarah Jalan Otista Bandung dan Kisah di Balik Namanya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bandung menyimpan banyak cerita menarik di balik jalan-jalan tuanya, termasuk sejarah Jalan Otista Bandung. Tak banyak yang tahu, ada satu ruas jalan sepanjang 20 meter yang hanya dibuka setiap 30 tahun sekali.
Ruas pendek ini berada di jantung kota, tersembunyi di antara rel Stasiun Timur dan Jalan Kebon Jukut. Ia pernah terbuka saat peringatan Konferensi Asia Afrika tahun 1985 dan kembali dibuka pada 2015 lalu.
Meski tampak biasa, jalan ini menyimpan kisah perjuangan rakyat dan keberanian seorang tokoh Sunda. Dari situlah, namanya diabadikan menjadi Otista—sebuah nama yang kini lekat dalam sejarah dan ingatan.
Sejarah Jalan Otista Bandung
Menurut laman bandung.go.id, sejarah Jalan Otista Bandung erat kaitannya dengan tokoh pahlawan nasional Oto Iskandar Di Nata dan perkembangan kawasan sekitar Pasar Baru. Jalan ini awalnya dikenal sebagai Residentweg (Jalan Residen).
Pada 1864-an, Residenweg dibangun untuk menghubungkan Gedung Pakuan (kini rumah dinas gubernur) dengan Pendopo Kabupaten. Jalan ini membentang melintasi Pasar Baru dan jalur kereta, yang dulu bisa dilewati saat palang terbuka.
Namun, seiring perkembangan kota, jalan ini mengalami pemisahan. Rel Stasiun Timur memotong jalur, dan pagar tinggi membatasi akses. Alur lalu lintas pun diarahkan ke jalur lain, sampai pada 1970-an sebagian jalan resmi ditutup.
Pemerintah membangun jembatan Viaduct untuk pejalan kaki. Pedagang kaki lima, kios ban, dan pagar menjulang mulai memadati, membuat jalan yang menyimpan jejak kota sejak abad ke-19 ini kian terlupakan sejarahnya oleh warga.
Nama “Residentweg” akhirnya diganti setelah Indonesia merdeka. Pemerintah menghapus jejak kolonial dan menggantinya dengan nama tokoh nasional—Oto Iskandar Di Nata—yang berjasa bagi rakyat, terutama pedagang, Bandung.
Kisah di Balik Nama Jalan Otista Bandung
Mengutip laman bpmbkm.uma.ac.id, Oto Iskandar Di Nata adalah seorang pribumi Pasundan yang dikenal sebagai keturunan bangsawan. Ia lahir dengan nama Raden Oto Iskandar Di Nata pada 31 Maret 1897 di Bojongsoang, Kabupaten Bandung.
Selama hidupnya, sang priayi aktif sebagai pendidik, berorganisasi, dan berpolitik. Ia dikenal pandai dan pemberani, apalagi jika itu menyangkut kemerdekaan negara dan kemerdekaan para pribumi untuk beraktivitas di tanah airnya sendiri.
Salah satu jasanya adalah menjadi penengah antara kaum pedagang di sekitar Pasar Baru, Bandung, dan tentara sekutu. Saat itu adalah masa revolusi, masa di mana Indonesia sudah merdeka tetapi sekutu masih ada dan membuat ulah.
Para pedagang yang berjualan diceritakan enggan menjual barangnya pada sekutu. Hal itu memicu konflik, yang membuat para tentara belanda sampai mengacungkan senjata ke arah para pedagang, sampai akhirnya Oto datang melerai.
Dengan segala kebijakannya, sang priayi bersuara agar pedagang melunak, pun agar sekutu tak gegabah. Ketika akhirnya masalah selesai, jasa itu kemudian dikenang dalam sebuah nama jalan sekitar Pasar Baru yang dinamai Jalan Otista.
Demikian ulasan mengenai sejarah Jalan Otista Bandung, lengkap dengan kisah di balik namanya. Bila ingin tahu lebih banyak, carilah referensi lain dari buku sejarah lokal, laman resmi pemerintah, maupun info di museum. (NF)
Baca juga: Sejarah Jalan Lengkong Bandung, Jalan Bersejarah di Bumi Priangan
