Konten dari Pengguna

Sejarah Jalangkote, Kuliner Makassar Penuh Tradisi

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sejarah jalangkote. Foto: Pexels.com/Pedro Furtado
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sejarah jalangkote. Foto: Pexels.com/Pedro Furtado

Sejarah jalangkote menjadi bagian penting dalam kekayaan kuliner tradisional Indonesia, khususnya dari wilayah Makassar, Sulawesi Selatan.

Hidangan ini telah melewati perjalanan panjang sebelum dikenal luas seperti sekarang. Popularitasnya tidak hanya bertahan, tetapi justru semakin berkembang seiring waktu.

Sejarah Jalangkote

Ilustrasi sejarah jalangkote. Foto: Pexels.com/Aleyda Balderas

Dikutip dari ditjenpas.go.id, sejarah jalangkote bermula dari kebiasaan masyarakat Makassar yang menjajakan makanan ringan secara keliling sambil berjalan kaki.

Nama "jalangkote" sendiri berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Makassar, yaitu "jalang" yang berarti jalan dan "kote" yang berarti berteriak atau bersuara keras.

Penamaan ini mengacu pada cara unik anak-anak yang dulunya berjualan jalangkote sambil berjalan keliling kampung dan berteriak menawarkan dagangan mereka.

Aktivitas ini tidak hanya menjadi sarana mencari penghasilan, tetapi juga memperlihatkan semangat kerja keras yang telah melekat sejak usia dini dalam budaya lokal.

Seiring berjalannya waktu, jalangkote menjadi simbol makanan rakyat yang terjangkau dan mudah ditemukan. Meskipun bentuknya menyerupai pastel, jalangkote memiliki karakteristik berbeda yang menjadikannya khas.

Kulitnya tipis dan renyah, dibuat dari adonan khusus yang menghasilkan tekstur garing saat digoreng.

Isinya terdiri dari perpaduan bihun, wortel, kentang, dan potongan telur, yang kemudian disantap dengan sambal cair berbumbu asam dari cuka dan garam.

Cita rasa ini tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mencerminkan akulturasi budaya yang terbentuk dari perpaduan pengaruh lokal dan luar.

Jalangkote sempat menjadi pangan utama masyarakat kelas bawah, terutama anak-anak sekolah yang menjadikannya sebagai sarana menambah penghasilan keluarga.

Harganya yang murah, berkisar antara Rp1.000 sampai Rp3.000 per buah, membuatnya sangat terjangkau. Kemudahan dalam membuat serta menjual jalangkote menjadikannya pilihan favorit untuk memulai usaha kecil.

Dalam konteks ini, jalangkote bukan sekadar makanan ringan, melainkan bagian dari upaya bertahan hidup dan simbol kemandirian masyarakat urban dan pinggiran kota Makassar.

Dalam perkembangannya, sejarah jalangkote juga mencatat perubahan bentuk dan varian dari segi isi maupun cara penyajiannya.

Kini, jalangkote tidak lagi sekadar jajanan kaki lima, tetapi bisa dijumpai di toko kue modern, kantin sekolah, hingga restoran yang mengusung konsep kuliner tradisional.

Beberapa penjual bahkan mulai berinovasi dengan menciptakan jalangkote isi keju, sosis, atau daging sapi.

Meskipun demikian, versi klasik tetap menjadi favorit karena mengandung nilai sentimental dan historis yang kuat bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

Dengan segala transformasi tersebut, sejarah jalangkote tidak hanya menjadi catatan tentang asal-usul sebuah makanan, melainkan juga gambaran dinamika sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Makassar.

Jalangkote telah menembus batas kelas sosial dan generasi, menjelma menjadi ikon kuliner daerah yang terus hidup di tengah zaman yang berubah.

Ketika makanan lain silih berganti popularitasnya, jalangkote tetap kokoh sebagai simbol kebanggaan identitas kuliner lokal.

Hingga saat ini, sejarah jalangkote masih terus dikenang dan dirayakan melalui berbagai festival makanan daerah maupun dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sulawesi Selatan. (Shofia)

Baca Juga: Sejarah Air Terjun Dolo Kediri yang Tersembunyi di kaki Gunung Wilis