Sejarah Kain Jumputan Palembang dan Cara Membuat Kain Tersebut

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah kain jumputan Palembang menjadi pemabahasan yang menarik mengenai salah satu budaya Indonesia.
Dikutip dari buku Tritik Jumputan Inovatif oleh Suryani dan Tika, pada dasarnya, kain tritik jumputan merupakan kain yang didapat dari proses pewarnaan rintang dengan menggunakan bahan perintang seperti benang, tali, atau sejenisnya.
Lantas, bagaimana sejarah kain jumputan Palembang?
Sejarah Kain Jumputan Palembang
Saat ini, jumputan lebih dikenal dengan istilah tie dye. Sejarah teknik celup ikat atau tie dye berasal dari Tiongkok yang berkembang di wilayah India.
Penyebaran teknik tersebut mencapai Afrika dan Asia Tenggara yang terjadi melalui jalur sutera. Jalur sutera adalah jalur yang menghubungkan Tiongkok sampai ke daratan Roma dan Persia.
Teknik celup ikat atau tie dye di Indonesia mempunyai penyebutan berbeda-beda. Misalnya, di Palembang kain jumputan juga disebut dengan cinde atau kain pelangi.
Nama jumputan sendiri berasal dari kata "jumput" yang berkaitan dengan pembuatan kain yang ditarik (dicomot) dam dijumput.
Umumnya, batik jumputam mempunyai motif sederhana. Mulai dari kayu, biji-bijian, sampai bunga. Batik jumputan tradisional hanya mempunyai motif yang terbatas.
Pasalnya, penggunaan batik jumputan tradisional hanya untuk acara khusus, seperti upacara adat.
Cara Membuat Kain Jumputan
Sebelum mulai membuat kain jumputan, ada berbagai alat dan bahan yang harus disiapkan yaitu:
Tali atau karet
Panci
Kain
Air
Zat pewarna
Sendok kayu
Ember
Kelereng, koin, atau batu
Setelah semua alat dan bahan siap, berikut ini cara membuat kain jumputan yang dapat diikuti:
Umumnya kain yang digunakan adalah sutera atau katun dengan daya serap bagus
Menggunakan batu, koin, atau kelereng sebagai isian dalam kain sebelum diikat sesuai motif
Ikat bagian-bagian kain memakai tali atau karet
Kain yang sudah diikat dicelupkan dalam larutan air dan pewarna yang sudah dimasak sampai mendidih
Kain direndam selama beberapa menit agar warna menyerap maksimal sambil diaduk memakai sendok kayu
Kain diangkat kemudian dibilas menggunakan air bersih dalam ember
Karet atau tali dilepas lalu kain diangin-anginkan atau dijemur sampai kering
Nah itu dia sekilas pembahasan mengenai sejarah kain jumputan Palembang dan cara pembuatannya.(LAU)
