Sejarah Kehidupan Politik Kerajaan Pajajaran

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat di sekolah, kamu pasti mendengar tentang kerajaan pajajaran. Kerajaan Hindu yang terletak di Pakuan atau yang sekarang lebih dikenal dengan Bogor ini, memiliki banyak sekali sejarah penting.
Di artikel kali ini, kita akan membahas sejarah kehidupan politik kerajaan pajajaran. Yuk, simak sampai habis.
Sejarah Kehidupan Politik Kerajaan Pajajaran
Dikutip dari buku Kerajaan-Kerajaan Nusantara karya Woro Miswati, Kerajaan Pajajaran sering disebut Negeri Sunda. Kerajaan ini berdiri pada tahun 923 oleh Sri Jayabhupati.
Letak kerajaan ini ada diantara Sungai Besar dengan Sungai Tangerang yang sekarang lebih dikenal dengan Ciliwung dan Cisadane. Lokasinya berada di dataran tinggi yang satu sisi menghadap ke arah Gunung Pangrango dan Tebing Ciliwung.
Kerajaan Pajajaran tidak terlepas dari kerajaan pendahulunya, seperti Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Galuh, dan masih banyak lagi. Hal ini disebabkan oleh pemerintahan Pajajaran yang merupakan kelanjutan dari kerajaan sebelumnya.
Kerajaan ini menganut sistem pemerintahan feodal. Pemimpin mereka adalah prabu atau raja. Selama masa berdirinya Pajajaran, kerajaan ini dipimpin oleh 6 raja, di antaranya adalah:
Sri Baduga Maharaja/Prabu Siliwangi (1482 – 1521)
Surawisesa (1521–1535)
Ratu Dewata (1535–1543)
Ratu Sakti (1543–1551)
Ratu Nilakendra (1551–1567)
Mereka berlima adalah para raja yang menduduki Kerajaan Pajajaran di daerah Pakuan. Pada masa pemerintah Ratu Nilakendra, Pajajaran yang berpusat di Pakuan diserang oleh Sultan Hasanuddin dan anaknya, Maulana Yusuf.
Akhirnya, Pajajaran memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Pandeglang. Raja Pajajaran di daerah Pandeglang adalah Raga Mulya (1567–1579) atau Prabu Surya Kencana.
Masa keemasan Kerajaan Pajajaran adalah saat pemerintahan Sri Baduga Maharaja. Pembangunan pada masa ini menyangkut seluruh aspek kehidupan. Diantaranya adalah:
Telaga Besar bernama Maharena Wijaya
Jalan menuju Ibu kota Pakuan dan Wanagiri.
Kesatriaan atau asrama prajurit
Pamingtonan atau tempat pertunjukan, dan masih banyak lagi.
Pada tahun 1579, Kerajaan Pajajaran runtuh karena diserang oleh Kesultanan Banten. Berakhirnya Pajajaran ditandai dengan pindahnya Palangka Sriman Sriwacana ke Keraton Surosowan di Banten. Ini merupakan tradisi politik agar Pakuan Pajajaran tidak menobatkan raja baru.
Nah, itu dia kehidupan politik pada masa Kerajaan Pajajaran. Semoga bermanfaat, ya!
