Sejarah Kesultanan Sambas di Kalimantan dan Perkembangannya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesultanan Sambas adalah kerajaan Islam yang berada di wilayah Kalimantan Barat. Adapun sejarah Kesultanan Sambas ini bermula dari Kesultanan Brunei.
Posha, Sewang, dan Kara dalam Peran Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin di Kesultanan Sambas 1931-1943 Dalam Bidang Revitalisasi Lembaga Peradilan Agama menyebutkan bahwa Kesultanan Sambas termasuk sebagai salah satu Kesultanan Melayu.
Untuk mengetahui informasi lebih lanjut berkaitan dengan sejarah Kesultanan Sambas, cari tahu lebih lanjut dalam artikel berikut.
Sejarah Kesultanan Sambas
Kesultanan Sambas adalah salah satu kerajaan Islam yang pernah berdiri di Nusantara. Sejarah Kesultanan Sambas bermula dari Kesultanan Brunei yang kala itu dipimpin oleh Sultan Abdul Jalilul Akbar.
Setelah itu, terdapat isu bahwa Pangeran Muda Tengah hendak merebut takhta raja. Namun, sebagai upaya untuk menghindari perebutan takhta kerajaan tersebut, akhirnya Sultan Abdul Jalilul Akbar memberikan wilayah Serawak untuk Pangeran Muda Tengah.
Pada 1629, Pangeran Muda Tengah pun naik takhta menjadi Sultan Serawak dan mempunyai gelar Sultan Ibrahim Ali Omar Shah atau Sultan Tengah.
Suatu kali, Sultan Tengah sedang melakukan perjalanan menuju Johor, tetapi akhirnya terdampar di pantai yang berada di wilayah kekuasaan Kesultanan Sukadana. Akhirnya, Sultan Tengah pun berkunjung ke Kesultanan Sukadana dan menerima sambutan hangat, hingga diperbolehkan tinggal.
Setelah mengenal Sultan Tengah cukup lama, Sultan dari Kesultanan Sukadana, yaitu Sultan Muhammad Shafiuddin pun menikahkan putrinya, Putri Surya Kesuma dengan Sultan Tengah.
Dari pernikahan tersebut, mereka berdua memiliki anak laki-laki bernama Sulaiman. Beberapa tahun usai menetap di Sukadana, Sultan Tengah pun pindah ke wilayah Sungai Sambas yang telah berdiri Kerajaan Panembahan Sambas sekitar tahun 1638.
Sultan Tengah menemui Ratu Sapudak dan diizinkan untuk mendirikan perkampungan. Saat Sulaiman tumbuh dewasa, Sultan Tengah pun menikahkannya dengan putri Ratu Sapudak.
Raden Sulaiman lambat laun mulai menjabat menjadi Menteri Besar Panembahan Sambas dengan Raden Arya Mangkurat. Akan tetapi, sepeninggal ayahnya, Raden Sulaiman justru memperoleh tekanan dari Raden Arya Mangkurat.
Hal itu membuatnya pindah ke Kota Bandir, tepatnya di sekitar Sungai Selakau dan mulai mendirikan kerajaan baru bernama Kesultanan Sambas pada 1671 dan beliau menjadi sultan pertama dengan gelar Sultan Muhammad Shafiuddin I.
Perkembangan Kesultanan Sambas
Usai wafatnya Sultan Muhammad Shafiuddin I, Kesultanan Sambas dipimpin oleh putranya, yaitu Raden Bima dengan gelar Sultan Muhammad Tajuddin.
Beliau memindahkan ibu kota kerajaan ke dekat percabangan tiga sungai, antara lain Sungai Sambas, Sungai Subah, serta Sungai Tebrau. Selanjutnya, Kesultanan Sambas pun menjadi kerajaan terbesar di wilayah Kalimantan Barat sejak abad ke-18 sampai awal abad ke-19.
Demikian beberapa informasi berkaitan dengan sejarah Kesultanan Sambas. [ENF]
