Konten dari Pengguna

Sejarah Lomba Bakiak sebagai Warisan Budaya Nusantara

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sejarah lomba bakiak. Foto: Unsplash/ Alfian Dimas
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sejarah lomba bakiak. Foto: Unsplash/ Alfian Dimas

Sejarah lomba bakiak merupakan bagian menarik dari kekayaan permainan tradisional Indonesia.

Lomba ini sering ditemui pada perayaan Hari Kemerdekaan setiap 17 Agustus, di lapangan desa hingga kompleks perkotaan.

Meski terlihat sederhana, bakiak menyimpan nilai sejarah dan budaya yang patut dilestarikan. Permainan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan antarwarga.

Sejarah Lomba Bakiak

Ilustrasi sejarah lomba bakiak. Foto: Unsplash/sporlab

Dikutip dari jurnal Permainan Tradisional Bakiak Untuk Perkembangan Motorik Kasar Anak, Andan Fimasnya dkk. (2003:322), sejarah lomba bakiak, yang mulai dikenal di Sumatera Barat sekitar pertengahan tahun 1970-an.

Kemudian menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, terutama melalui acara peringatan kemerdekaan. Bentuknya yang unik dan cara bermain yang mengandalkan kekompakan membuatnya cepat diterima masyarakat.

Alat yang digunakan berupa dua papan kayu kuat berbentuk seperti sandal dengan panjang sekitar 125 cm. Pada masing-masing papan terpasang tiga hingga empat tali karet yang berfungsi sebagai pengikat kaki para pemain.

Cara bermainnya sederhana peserta berdiri berjajar di atas bakiak, kemudian berjalan serempak dari garis start menuju garis finis.

Tantangan utamanya adalah menjaga langkah tetap sinkron. Bila salah satu peserta kehilangan keseimbangan, tim bisa terjatuh dan kalah.

Nilai yang terkandung dalam lomba bakiak sangat erat kaitannya dengan budaya gotong royong masyarakat Indonesia, serta mengajarkan koordinasi, komunikasi, kesabaran, dan kerja sama tim.

Setiap langkah harus diatur bersama, sehingga semua anggota memiliki peran penting. Filosofi ini sejalan dengan semangat persatuan dan kebersamaan yang menjadi landasan perjuangan bangsa.

Di era modern, permainan bakiak memang mulai jarang dijumpai karena dominasi permainan digital. Namun, upaya pelestarian terus dilakukan melalui lomba di acara Agustusan, festival budaya, hingga kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Beberapa komunitas juga mengadakan pelatihan permainan tradisional agar generasi muda mengenal dan mencintai warisan budaya bangsa.

Lomba bakiak bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga mencerminkan semangat kerja sama yang tumbuh dari kearifan lokal. Melestarikannya berarti menjaga jati diri bangsa sekaligus menanamkan nilai kebersamaan kepada generasi penerus. (Yolan)

Baca juga: Sejarah Permainan Congklak dan Perkembangannya hingga Kini