Konten dari Pengguna

Sejarah Malam 1 Suro, Mitos, dan Fakta Menariknya dalam Budaya Nusantara

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sejarah Malam 1 Suro. Unsplash.com/Lighten Up
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sejarah Malam 1 Suro. Unsplash.com/Lighten Up

Sejarah Malam 1 Suro atau dikenal juga sebagai Satu Suro adalah malam sakral yang menandai pergantian tahun dalam kalender Jawa. Waktu ini bersamaan dengan malam sebelum 1 Muharram dalam kalender Hijriah.

Dikutip dari syariah.uin-malang.ac.id, perayaan Satu Suro lahir dari usaha Sultan Agung Mataram pada abad ke‑17 yang menyelaraskan kalender Saka dengan Hijriah, sehingga bulan Suro berbanding Muharram, awal tahun baru Jawa dan momen spiritual yang penting.

Sejarah Malam 1 Suro & Makna Spiritual

Ilustrasi Sejarah Malam 1 Suro. Unsplash.com/Muhammad Adin Samudro

Sejarah malam 1 Suro yang ditetapkan oleh Sultan Agung bertepatan dengan 1 Muharram, menjunjung nilai Islam sambil mempertahankan tradisi Jawa.

Pada malam ini, masyarakat melakukan tafakur, meditasi (tapa bisu atau tapa kungkum), dan refleksi sebagai persiapan spiritual untuk datangnya tahun baru.

Tradisi Malam 1 Suro di Nusantara

Ilustrasi Sejarah Malam 1 Suro. Unsplash.com/Maharanita Nugradianti

Beberapa tradisi suroan yang sering dijumpai di kota-kota besar Nusantara diantaranya:

1. Mubeng Beteng

Mubeng Beteng adalah salah satu ritual paling khas yang dilakukan di Yogyakarta. Dalam tradisi ini, masyarakat dan abdi dalem keraton berjalan kaki mengelilingi benteng keraton (Beteng Baluwarti) tanpa berbicara sepatah kata pun (tapa bisu).

Ritual ini dilakukan sebagai bentuk perenungan dan penyucian diri dalam menyambut tahun baru Jawa.

2. Kirab Kebo Bule

Di Kota Surakarta (Solo), masyarakat melaksanakan Kirab Kebo Bule, yakni arak-arakan kerbau albino yang dianggap keramat dan diberi nama Kyai Slamet.

Kerbau ini dipercaya membawa berkah dan membersihkan energi negatif di lingkungan keraton maupun kota.

3. Jenang Suran

Sementara itu, di Kotagede Yogyakarta, terdapat tradisi Jenang Suran, yaitu pembagian jenang (bubur merah dan putih) oleh para abdi dalem kepada masyarakat.

Bubur ini dianggap memiliki nilai simbolis berupa keberkahan, perlindungan, dan harapan baik untuk tahun mendatang.

4. Ngumbah Keris

Tak hanya itu, di berbagai daerah di Jawa, terdapat pula ritual Ngumbah Keris, yakni kegiatan membersihkan pusaka, terutama keris, dengan air bunga.

Ritual ini bertujuan untuk membersihkan energi negatif dan memperkuat aura spiritual dari benda pusaka tersebut.

5. Ruwatan

Sebagai bagian dari pemurnian spiritual dan hiburan rakyat, beberapa daerah juga menyelenggarakan Ruwatan dan pertunjukan wayang kulit.

Ruwatan biasanya ditujukan untuk membebaskan seseorang dari sial atau nasib buruk, sedangkan pertunjukan wayang kulit sepanjang malam menjadi simbol kebijaksanaan dan pengingat nilai-nilai kehidupan melalui kisah pewayangan.

Fakta Menarik Malam 1 Suro

Ilustrasi Sejarah Malam 1 Suro. Unsplash.com/Arya Krisdyantara

Malam 1 Suro bukan sekadar ritual mistis, tapi juga momen bersih-bersih fisik & spiritual seperti mandi kembang, berdoa, ziarah makam, dan jamasan pusaka.

Banyak komunitas yang kini menjadikan malam ini sebagai festival budaya, termasuk Grebeg Suro di Ponorogo, Sedekah Gunung di Klaten, dan Panjang Jimat di Cirebon, sebagai upaya melestarikan warisan Nusantara.

Sejarah Malam 1 Suro berakar dari perpaduan tradisi Jawa, agama Islam, dan kepercayaan lokal. Di Nusantara, momen ini diwarnai ritual penyucian diri, penghormatan leluhur, serta berbagai mitos sebagai bentuk kehati-hatian spiritual. (Aya)

Baca juga: Mitos Buaya Putih yang Masih Diyakini hingga Kini