Konten dari Pengguna

Sejarah Mudik dan Perkembangannya di Indonesia

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sejarah Mudik. Pexels/Damir Mijailovic
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sejarah Mudik. Pexels/Damir Mijailovic

Sejarah mudik di Indonesia telah menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Berdasarkan buku Mudik dan Tradisi Pulang Kampung di Indonesia, R. Suryaningsih, 2020:45, kebiasaan pulang ke kampung halaman ini sudah ada sejak zaman kerajaan Nusantara.

Tradisi ini erat kaitannya dengan budaya masyarakat agraris yang selalu kembali ke desa setelah merantau untuk mencari penghidupan di kota.

Asal-usul Tradisi Mudik

Ilustrasi Sejarah Mudik. Pexels/Selim Karadayı

Dalam catatan sejarah mudik, fenomena ini telah dikenal sejak era kerajaan Mataram Islam pada abad ke-16.

Dijelaskan bahwa para perantau kembali ke desa menjelang perayaan keagamaan atau upacara adat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan tradisi keluarga.

Pada masa kolonial Belanda, praktik mudik semakin berkembang ketika banyak masyarakat pribumi bekerja di perkotaan sebagai buruh atau pegawai.

Pekerja yang merantau ke Batavia (Jakarta), Semarang, dan Surabaya sering mendapat kesempatan untuk pulang ke kampung halaman menjelang perayaan hari besar.

Seiring dengan meningkatnya mobilitas penduduk, keinginan untuk kembali ke desa semakin kuat, terutama saat Idulfitri.

Perkembangan Mudik di Era Modern

Ilustrasi Sejarah Mudik. Pexels/Caio

Memasuki era kemerdekaan, sejarah mudik Indonesia mengalami perkembangan signifikan. Urbanisasi besar-besaran sejak tahun 1970-an menyebabkan semakin banyak masyarakat yang meninggalkan desa untuk bekerja di kota.

Fenomena ini memperkuat tradisi mudik sebagai bagian dari identitas sosial. Pada masa itu, moda transportasi darat seperti kereta api dan bus menjadi pilihan utama para pemudik.

Dalam beberapa dekade terakhir, pemerintah mulai memperhatikan arus mudik dengan berbagai kebijakan.

Dicatat bahwa sejak awal 2000-an, program mudik gratis bagi pengguna sepeda motor dan bus mulai diterapkan untuk mengurangi kemacetan serta meningkatkan keselamatan.

Selain itu, pembangunan jalan tol Trans-Jawa dan Trans-Sumatra mempercepat waktu tempuh pemudik.

Seiring kemajuan teknologi, sistem transportasi online serta layanan tiket daring semakin memudahkan masyarakat dalam merencanakan perjalanan.

Namun, inti dari sejarah mudik tetap sama, yaitu sebagai momen untuk mempererat hubungan keluarga dan mengenang kembali akar budaya di kampung halaman.

Tradisi ini terus bertahan sebagai salah satu aspek penting dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. (Mona)

Baca Juga: Sejarah Museum Geopark Batur yang Menarik untuk Ditelusuri