Konten dari Pengguna

Sejarah Orang Rantai Sawahlunto di Tambang Ombilin

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah orang rantai Sawahlunto,Pexels/lalesh aldarwish
zoom-in-whitePerbesar
Sejarah orang rantai Sawahlunto,Pexels/lalesh aldarwish

Sejarah orang rantai Sawahlunto adalah sebuah cerita yang berkembang di tengah masyarakat. Sawahlunto merupakan sebuah kota kecil di Sumatera Barat.

Kota ini menyimpan kisah kelam tentang masa penjajahan Belanda yang jarang terdengar di buku sejarah populer. Sawahlunto dikenal sebagai pusat tambang batu bara sejak akhir abad ke-19. Tambang ini terkenal dengan kisah "Orang Rantai".

Sejarah Orang Rantai Sawahlunto

Sejarah orang rantai Sawahlunto,Pexels/Ibrahim Boran

Berdasarkan artikel ilmiah Reconstructing collective memory: coal-mining Heritage Museums in Sawahlunto, Indonesia oleh Delmira Syafrini, dkk., berikut ini hal-hal menarik dan sejarah orang rantai Sawahlunto di Tambang Ombilin.

Tambang Ombilin di Sawahlunto, Sumatera Barat, merupakan tambang batu bara tertua di Asia Tenggara. Tambang ini mulai beroperasi sejak 1876 setelah ditemukan oleh insinyur Belanda, Willem Hendrik de Greve.

Namun, di balik kemegahan teknik kolonial itu tersimpan kisah tragis para “Orang Rantai”. Orang rantai adalah sebutan dari tahanan yang diangkut dengan cara brutal dari berbagai penjuru kepulauan Hindia Belanda.

Orang rantai dikumpulkan untuk bekerja paksa (rodi) di tambang dan terikat dengan rantai yang terikat di kaki. Orang rantai bukanlah buruh kontrak; melainkan narapidana politik atau kriminal.

Orang rantai diperlakukan tanpa upah dan menghadapi hukuman cambuk jika berani melawan atau mencoba kabur. Identitas mereka lenyap, yang tersisa hanyalah nomor yang ditato dan beberapa nisan tua yang menghiasi kuburan massal.

Puncak kekejaman terjadi hingga tahun 1930-an. Tambang semakin diperluas dan jumlah orang rantai terus bertambah.

Meski kontrak pekerja yang berasal dari Jawa, Tionghoa, dan pribumi Minangkabau juga dipekerjakan, hanya tahanan yang dipaksa tanpa bayaran. Setelah kemerdekaan, pemerintah Indonesia menutup sistem kerja paksa dan menasionalisasi tambang.

Banyak orang rantai yang selamat memilih menetap di Sawahlunto. Orang-orang yang selamat membentuk komunitas multi-etnis yang hingga kini menjadi bagian kultur kota.

Pada tahun 2019 Tambang Ombilin diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia. Kisah kelam Orang Rantai menjadi bagian penting sejarah kolonialisme dan refleksi atas pelanggaran hak asasi.

Jejak Sejarah orang rantai Sawahlunto menjadi pengingat penting bahwa modernisasi dan industrialisasi sering kali dibayar dengan penderitaan manusia. Salah satu terowongan dalam tambang kini diubah menjadi museum yang menampilkan cerita narapidana. (Fia)

Baca juga: Sejarah Orang Bali di Lampung dari Awal hingga Perkembangannya