Sejarah Pabrik Gula di Sindanglaut dari Awal Berdirinya hingga Kini

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Pabrik Gula di Sindanglaut (PG) di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, merupakan salah satu saksi bisu perkembangan industri gula di Indonesia. Pabrik gula di kawasan ini diketahui ada sejak era kolonial Belanda.
Dikutip dari setda.cirebonkab.go.id, pabrik ini didirikan pada tahun 1872 oleh Benjamin Feist. Kemudian menjalin kerja sama dengan Nederlandsch Indische Landbouw Maatschappij (NILM) pada tahun 1891 untuk memastikan kelancaran operasional dan pembiayaan.
Sejarah Pabrik Gula di Sindanglaut
Pada masa kejayaannya, sejarah pabrik gula di Sindanglaut memiliki lahan tebu seluas 1.152 hektar dan mampu menggiling tebu hingga 82.701,06 ton. Kemudian menghasilkan gula sebanyak 10.572,48 kg serta gula stroop sebanyak 409,14 ton.
Keberadaan pabrik ini tidak hanya memperkenalkan teknologi industri kepada masyarakat pribumi, tetapi juga mengubah struktur sosial dari feodal menjadi masyarakat industri dengan pembagian kelas berdasarkan pekerjaan atau jabatan.
Namun, perjalanan pabrik gula Sindanglaut tidak selalu mulus. Akibat Depresi Besar, produksi pabrik ini menurun drastis karena hanya 34% lahan yang ditanami.
Situasi diperparah dengan penandatanganan Deklarasi Chadbourne oleh Pemerintah Belanda, yang membatasi ekspor gula dari Hindia Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, PG Sindanglaut dinasionalisasi dan dikelola oleh pemerintah Indonesia.
Pabrik ini sempat mengalami penutupan pada tahun 2006 karena alasan ekonomi, namun dibuka kembali pada tahun 2010. Kemudian diresmikan sebagai Pusat Industri Kreatif Sindanglaut, yang fokus pada pengembangan industri kreatif di Kabupaten Cirebon.
Pada Januari 2020, PG Sindanglaut kembali ditutup, yang menimbulkan penolakan dari karyawan. Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Eko, menyatakan bahwa para pekerja telah dipindahkan ke pabrik gula lain milik PG Rajawali II.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, PG Sindanglaut tetap menjadi bagian penting dari sejarah industri gula di Indonesia.
Pemerintah Kabupaten Cirebon berencana mengembangkan pabrik ini sebagai destinasi wisata heritage, menawarkan pengalaman edukasi sejarah bagi wisatawan domestik dan mancanegara.
Dengan demikian, sejarah pabrik gula di Sindanglaut mencerminkan perjalanan panjang industri gula di Indonesia. PG ini juga berpotensi sebagai objek wisata edukasi yang memperkaya pemahaman sejarah dan perkembangan teknologi di masa kolonial hingga kini. (Aya)
Baca Juga: Asal-usul Wonogiri dan Kondisi Geografisnya
