Sejarah Pendidikan di Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan merupakan faktor penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sayangnya, bangsa Indonesia tidak mendapatkan pendidikan yang layak pada masa penjejahan. Lalu bagaimana sejarah pendidikan di Indonesia pada masa pendudukan Jepang?
Selama masa penjajahan Jepang, sistem pendidikan di Indonesia mengalami perubahan yang signifikan. Meski begitu, perubahan tersebut belum sepenuhnya berpihak pada rakyat Indonesia.
Simak penjelasan tentang sejarah pendidikan di Indonesia pada masa pendudukan Jepang di sini.
Sejarah Pendidikan di Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang
Dikutip dari buku Sejarah karya Nana Supriatna, (Grafindo) perubahan pendidikan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari tujuan Jepang menjajah Indonesia. Di mana Jepang ingin menjadikan Indonesia sebagai daerah penghasil dan penyuplai bahan mentah mereka.
Selain bahan mentah, Jepang juga berencana untuk menjadikan Indonesia sebagai penyuplai bahan bakar untuk kepentingan perang dan juga industri mereka. Oleh karena itu, pendidikan diarahkan untuk mendukung tujuan tersebut.
Berikut ini adalah beberapa kebijakan yang dilakukan dalam hal pendidikan di Indonesia pada masa pendudukan Jepang.
1. Penghapusan Bahasa Belanda dan Inggris
Kebijakan pertama adalah menghapus penggunaan dan pengajaran bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis di sekolah. Bahasa Jepang menjadi bahasa pengantar utama, sedangkan bahasa Melayu/Indonesia digunakan untuk kepentingan administrasi.
2. Mengubah Kurikulum
Jepang mengubah kurikulum sekolah dengan menambahkan mata pelajaran baru, seperti bahasa Jepang, pendidikan jiwa/mental, pendidikan jasmani, dan kegiatan kejuruan. Misalnya mata pelajaran sejarah Belanda dan Eropa diganti dengan sejarah Asia, Jepang, dan Indonesia.
3. Menyederhanakan Sistem Pendidikan
Jepang menyederhanakan sistem pendidikan formal menjadi tiga jenjang, yaitu Sekolah Dasar (SD) selama 6 tahun, Sekolah Menengah Pertama (SMP) selama 3 tahun, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) selama 3 tahun.
4. Melakukan Akreditasi Terhadap Sekolah
Jepang melakukan akreditasi kepada sekolah yang ada dan menutup sebagian besar sekolah yang dianggap tidak sesuai dengan kebijakan Jepang.
Beberapa sekolah yang ditutup antara lain adalah sekolah Belanda, sekolah swasta, sekolah agama Kristen, dan perguruan tinggi.
Dampak Positif Kebijakan Pendidikan Jepang
Meski belum sepenuhnya berpihak pada bangsa, berbagai kebijakan Jepang terhadap sistem pendidikan Indonesia telah memberi sejumlah dampak positif, antara lain:
Meningkatnya kesadaran nasionalisme dan persatuan bangsa Indonesia melalui penggunaan bahasa Melayu/Indonesia sebagai bahasa nasional dan pengajaran sejarah Indonesia.
Meningkatnya keterampilan praktis dan kerja keras masyarakat Indonesia melalui pendidikan jasmani, kejuruan, dan latihan militer.
Meningkatnya kesempatan pendidikan bagi perempuan yang sebelumnya terbatas oleh sistem Belanda.
Baca juga: Sejarah Sunan Bonang, Berdakwah Lewat Seni
Itulah penjelasan mengenai sejarah pendidikan di Indonesia pada masa pendudukan Jepang. (WWN)
