Sejarah Puasa Tarwiyah dan Arafah, Jejak Amalan Sunah yang Penuh Keutamaan

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah puasa tarwiyah dan arafah memiliki makna yang sangat penting dalam tradisi Islam, khususnya dalam rangkaian ibadah haji dan amalan puasa sunnah.
Memahami sejarah dan hikmah puasa tarwiyah dan arafah menjadi penting bagi umat Islam untuk menjalankan amalan ini dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Sejarah Puasa Tarwiyah dan Arafah
Sejarah puasa tarwiyah dan arafah berkaitan erat dengan peristiwa penting dalam kehidupan Nabi Ibrahim as dan pelaksanaan ibadah haji.
Kata Tarwiyah berasal dari bahasa Arab rawa–yarwi, yang secara harfiah berarti merenung atau memikirkan
Dalam konteks sejarah Islam, hari tarwiyah yakni tanggal 8 Dzulhijjah dikenal sebagai hari di mana para jamaah haji pada masa Nabi Ibrahim as mulai mempersiapkan diri untuk perjalanan menuju Arafah.
Hari itu pula diyakini sebagai saat ketika Nabi Ibrahim as mendapatkan mimpi dari Allah Swt yang memerintahkannya untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail as, namun karena perintah tersebut datang dalam mimpi dan begitu berat untuk diterima.
Beliau pun mengalami kebingungan, lalu merenung dan memikirkan secara mendalam tentang kebenaran perintah tersebut, sehingga masa perenungan itulah yang kemudian disebut dengan tarwiyah hari perenungan.
Umat Islam disunnahkan untuk mengenang dan mengikuti jejak keikhlasan serta keteguhan Nabi Ibrahim as dalam menjalankan perintah Allah Swt, sekaligus menjadikan puasa tarwiyah sebagai bentuk penghormatan dan persiapan ruhani menyambut hari arafah.
Hari arafah, yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah, merupakan salah satu hari paling mulia dalam Islam.
Hari ini menempati posisi yang sangat istimewa karena bertepatan dengan puncak pelaksanaan ibadah haji, yakni wukuf di Padang Arafah, yang merupakan rukun haji paling utama.
Dikutip dari situs Universitas KH. A.Wahab Hasbullah, puasa arafah merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.
Hal ini karena pada tanggal 9 Dzulhijjah, umat Islam yang berhaji sedang menjalani puncak ritual ibadah haji, yaitu wukuf di Padang Arafah.
Dalam kondisi tersebut, puasa justru tidak disyariatkan bagi yang sedang berhaji, bahkan sebagian ulama memakruhkannya karena dikhawatirkan mengganggu kekhusyukan dan kekuatan fisik selama wukuf.
Sebaliknya, bagi umat Islam yang tidak berhaji, puasa pada hari arafah sangat disunnahkan karena mengandung keutamaan besar.
Salah satu keutamaan luar biasa dari puasa ini adalah penghapusan dosa selama dua tahun yaitu satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.
Berpuasa di hari tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan arafah (9 Dzulhijjah) diyakini sebagai bentuk penyucian diri menjelang Idul adha, di mana seorang Muslim yang menjalankannya akan mendapatkan pahala besar serta pengampunan dari Allah Swt.
Dijelaskan juga dalam hadits Rasulullah saw: "Puasa pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." (HR. Muslim).
Sejarah puasa tarwiyah dan arafah bukan sekadar catatan tentang amalan sunnah, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur yang diwariskan dari perjalanan spiritual Nabi Ibrahim as dan teladan Rasulullah saw.
Kedua puasa ini mengajarkan umat Islam tentang pentingnya merenung, mempersiapkan diri secara rohani, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah Swt. (shr)
Baca juga: Mitos Danau Singkarak, Cerita Rakyat Minangkabau yang Sarat Makna
