Konten dari Pengguna

Sejarah Rebo Wekasan, Tradisi Unik yang Mengakhiri Bulan Safar

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Doa, Foto:Unsplash/Masjid Pogung Dalangan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Doa, Foto:Unsplash/Masjid Pogung Dalangan

Sejarah Rebo Wekasan menjadi bagian menarik dari perjalanan budaya Islam Nusantara yang hingga kini masih hidup dalam ingatan dan praktik masyarakat.

Tradisi yang digelar setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar ini bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga sebuah wujud perpaduan antara keyakinan, doa, serta kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Banyak kalangan memandang Rebo Wekasan sebagai momentum penuh makna, di mana masyarakat berusaha mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sekaligus menjaga hubungan sosial melalui doa bersama, sedekah, maupun amalan khas yang dijalankan.

Sejarah Rebo Wekasan

Ilustrasi Doa, Foto:Unsplash/Masjid Pogung Dalangan

Sejarah Rebo Wekasan menjadi bagian penting dalam tradisi masyarakat Muslim, terutama ketika memasuki hari Rabu terakhir di bulan Safar pada kalender Hijriah.

Dikutip dari laman p2k.stekom.ac.id, pada momen ini, berbagai kegiatan digelar, mulai dari doa bersama, berbagi makanan melalui gunungan atau selamatan, hingga pelaksanaan salat sunah lidaf’il bala yang sering dipahami sebagai salat tolak bala.

Namun, di sebagian kalangan Nahdlatul Ulama (NU), salat ini kini dianjurkan tidak lagi diniatkan secara khusus untuk memperingati Rebo Wekasan, melainkan dilakukan sebagaimana salat sunah lainnya, yaitu sebagai bentuk penghambaan kepada Tuhan.

Tradisi Rebo Pungkasan di berbagai daerah memiliki makna dan cara pelaksanaan yang berbeda. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, misalnya, perayaan ini berlangsung di Alun-Alun Jejeran, Wonokromo, Bantul.

Upacara tersebut diselenggarakan bertepatan dengan sejarah pertemuan antara Kyai Usman Faqih, tokoh agama dari Pleret, dengan Sri Sultan Hamengkubuwana I pada Rabu terakhir bulan Safar.

Oleh karena itu, perayaan ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual, melainkan juga sebagai pengingat akan hubungan erat antara tokoh agama dan pemimpin kerajaan pada masa lalu.

Sementara itu, di Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Rebo Pungkasan dipahami sebagai ungkapan syukur atas melimpahnya ikan yang diperoleh para nelayan.

Lebih dari sekadar perayaan hasil laut, tradisi ini juga diyakini sebagai permohonan perlindungan agar nelayan senantiasa terhindar dari bahaya saat melaut.

Dengan demikian, perayaan ini tidak hanya menyatukan masyarakat dalam rasa syukur, tetapi juga memperkuat ikatan spiritual yang diyakini dapat menjaga keselamatan mereka.

Jika ditelusuri lebih jauh, Rebo Pungkasan awalnya merupakan sebuah upacara tradisional yang dilaksanakan di tempuran, yakni pertemuan aliran Sungai Gajahwong dan Sungai Opak.

Upacara tersebut dikaitkan dengan kisah Sultan Agung yang dipercaya pernah melakukan pertemuan dengan penguasa laut selatan, Kanjeng Ratu Kidul. Meskipun demikian, seiring waktu praktik tersebut dianggap menimbulkan dampak yang kurang baik.

Oleh karena itu, bentuk upacara kemudian digeser menjadi tradisi yang lebih simbolis, yaitu arak-arakan gunungan lemper yang diiringi barisan masyarakat.

Perubahan ini menunjukkan bahwa tradisi mampu beradaptasi agar tetap bertahan tanpa kehilangan esensi maknanya.

Hingga kini, sejarah Rebo Wekasan tidak hanya dipandang sebagai cerita lama, melainkan juga sebagai wujud kebersamaan, doa, serta harapan masyarakat.

Selain itu, tradisi ini menjadi bukti bagaimana warisan budaya dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, namun tetap menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. (DANI)

Baca juga: Marga yang Tidak Boleh Menikah dengan Damanik dalam Tradisi Batak