Sejarah Stasiun Malang dari Era Kolonialisme Hingga Kini

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Stasiun Malang mencerminkan perkembangan transportasi dan pertumbuhan kota Malang sejak masa kolonial.
Dengan arsitektur bergaya kolonial yang khas, Stasiun Malang tidak hanya menjadi pusat mobilitas masyarakat, tetapi juga menjadi saksi bisu perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang terjadi di sekitarnya.
Sejarah Stasiun Malang
Sejarah Stasiun Malang merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan panjang perkembangan Kota Malang.
Dikutip dari situs malangkota.go.id, kota Malang memiliki dua stasiun utama yaitu Stasiun Kotalama yang dibangun pada 1879 dan merupakan yang tertua.
Stasiun Kotabaru yang kini menjadi stasiun terbesar dan terletak di Kecamatan Klojen. Stasiun Kotalama dulunya terhubung dengan jalur menuju Depo Pertamina.
Stasiun Malang Kotabaru dibangun pada 1940, awalnya berada di sisi timur rel karena dekat dengan tangsi militer.
Namun, seiring rencana pengembangan kota ke arah barat, stasiun dipindahkan ke sisi barat agar menghadap Alun-Alun Bundar dan lebih mudah diakses dari jalan-jalan utama kota.
Perancang kota saat itu, Ir. Herman Thomas Karsten, menempatkan stasiun di pusat kota seperti konsep kota-kota Eropa.
Bangunan stasiun dirancang dengan gaya arsitektur kolonial modern (Nieuwe Bouwen), dengan ciri atap datar dan bentuk kubus. Proyek ini dikerjakan oleh biro AIA dan arsitek J. van der Eb.
Salah satu aspek yang membuat Stasiun Malang Kotabaru berbeda dari stasiun lain di Indonesia adalah pembangunan fasilitas khusus yang berkaitan dengan ancaman geopolitik saat itu.
Karena dibangun menjelang Perang Dunia II, stasiun ini dilengkapi dengan terowongan bawah tanah yang menghubungkan antar peron sebagai langkah antisipasi terhadap potensi serangan udara.
Terowongan dan struktur bangunan dirancang menggunakan beton tahan ledakan dan tahan gas beracun, mengikuti arahan militer. Fitur pertahanan semacam ini merupakan sesuatu yang sangat jarang ditemui di stasiun-stasiun kereta api di Indonesia.
Hingga kini, Stasiun Malang Kotabaru tetap menjadi simbol penting perjalanan sejarah dan transportasi di kota Malang.
Stasiun Kotabaru memiliki posisi yang sangat strategis karena berada tidak jauh dari berbagai fasilitas penting di Kota Malang.
Lokasinya hanya berjarak puluhan meter dari Alun-Alun Bundar, kawasan sekolah unggulan SMA Tugu (yang mencakup SMA Negeri 1, 3, dan 4 Malang), Gedung DPRD, Balai Kota Malang, serta Pasar Klojen.
Selain itu, stasiun ini juga berdekatan dengan Hotel Tugu Inn, sejumlah hotel lainnya, dan Markas Kodam V Brawijaya.
Sejarah Stasiun Malang mencerminkan bagaimana perkembangan transportasi, arsitektur, dan tata kota saling berkaitan erat dalam membentuk identitas sebuah wilayah.
Dari masa kolonial hingga era modern, stasiun ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat mobilitas, tetapi juga menjadi saksi berbagai dinamika sosial, politik, dan budaya di Kota Malang. (shr)
Baca juga: Proses Terbentuknya Mobilitas Sosial dan Jenis-jenisnya
