Strategi Perang Puputan di Bali yang Penting Dipahami

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Strategi perang Puputan menjadi salah satu kisah sejarah yang menyimpan banyak pelajaran berarti.
Dikutip dari buku Seri Prof. Ensto: Ayo Mengenal Indonesia Bali dan Nusa Tenggara oleh Erwin Adi Putranto, perang Puputan mempunyai arti perang sampai mati dimana semua orang yang ada wajib melakukan dan mengorbankan jiwa raga sampai titik darah penghabisan.
Lantas, apa strategi perang Puputan yang digunakan?
Strategi Perang Puputan
Puputan merupakan sebuah tradisi perang oleh masyarakat Bali. Kata Puputan sendiri berasal dari kata puput yang berarti tanggal dan terlepas. Versi pribumi, puputan merupakan perang sampai nyawa melayang.
Dengan kata lain, puputan merupakan perang yang dilakukan sampai titik darah penghabisan. Terdapat berbagai Puputan yang pernah terjadi di Bali. Terdapat dua perang Puputan yang terkenal yaitu Puputan jagaraga dan Puputan Margarana.
Puputan Jagaraga terjadi dibawah kepemimpinan Kerajaan Buleleng yang melawan Belanda. Adapun strategi puputan yang ketika itu dierapkan adalah sistem tawan karang dengan cara menyita transportasi laut Belanda yang bersandar ke pelabuhan Buleleng.
Perang Puputan Margarana berpusat di Desa Adeng, Bali. Dalam perang ini, tokoh yang berperan adalah Letnn Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang lahir pada 30 Januari 1917 di Kabupaten Badung, Bali.
Dalam Perang tersebut, strategi yang diterapkan I Gusti Ngurah Rai tidak begitu jelas. Tetapi, semangat juang sangat terasa. Bahkan, pasukan yang berjuang mempunyai prinsip pantang menyerah, walaupun harus gugur di medan perang.
Ketika itu, kebun palawija dan jagung berubah menjadi genosida manusia. Bahkan sebuah sumber menyebutkan bahwa ketika itu I Gusti Ngurah Rai ketika itu menerapkan puputan, yaitu prinsip perang yang dilakukan habis-habisan sampai nyawa melayang.
Perang Puputan Maragana menggugurkan 96 pahlawan bangsa. Sedangkan, pihak Belanda harus kehilangan sebanyak 400 nyawa. Untuk mengenang peperangan yang terjadi di Desa Marga tersebut didirikan sebuah tugu bernama Tuguh Pahlawan Taman Pujaan Bangsa.
Selain itu, pada tanggal 20 November 1946 ditetapkan sebagai hari Perang Puputan Margarana yang tercatat sebagai salah satu perang palng hebat di Bali maupun Indonesia.
Nah itu dia sekilas pembahasan mengenai strategi Perang Puputan di Bali.(LAU)
