Tanggapan Orang Jepang terhadap Penyebaran Berita Kemerdekaan Indonesia 1945

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jepang sebagai salah satu penjajah Indonesia tentu tidak senang dengan kabar kemerdekaan bangsa ini. Tanggapan orang Jepang terhadap penyebaran berita kemerdekaan Indonesia adalah geram dan tidak terima.
Rasa geram dan tidak terima itu membuat Jepang melakukan kecaman kepada kantor berita. Kempetai, unit militer Jepang, bahkan memaksa masuk ke ruang siaran serta melakukan penyerangan fisik terhadap Yusuf Ronodipuro dan Bahtar Lubis.
Tanggapan Orang Jepang terhadap Penyebaran Berita Kemerdekaan Indonesia
Proklamasi kemerdekaan merupakan momen yang sangat dinantikan oleh bangsa Indonesia. Sebab, bangsa Indonesia sudah terlalu menderita akibat penjajahan oleh bangsa Belanda dan Jepang.
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945, tepatnya pada Jumat pukul 10:00 WIB. Setelah teks Proklamasi dibacakan, berita kemerdekaan Indonesia pun tersebar.
Pada masa itu, Jepang sebagai penjajah Indonesia sejak tahun 1942 memberi respons yang tidak baik. Tanggapan orang Jepang terhadap penyebaran berita kemerdekaan Indonesia adalah geram dan tidak terima.
Padahal tokoh penyebar berita kemerdekaan Indonesia, yakni Yusuf Ronodipuro, sudah sangat berhati-hati untuk menghindari kecurigaan dari Jepang. Khususnya kecurigaan dari Kempetai.
Baca juga: Kempeitai: Satuan Polisi Militer Jepang yang Sangat Ditakuti
Kronologi Penyebaran Berita Kemerdekaan Indonesia
Salah satu penyebar berita kemerdekaan Indonesia adalah Yusuf Ronodipuro. Mengutip dari buku Sejarah 3 SMA Kelas XII Program Ilmu Sosial karya Sardiman (2008: 9), pada tahun 1945, Yusuf Ronodipuro bekerja di Hoso Kyoku (Radio Militer Jepang).
Radio tersebut terletak di Jalan Medan Merdeka Utara Jakarta. Yusuf Ronodipuro termasuk tokoh pemberani yang berhasil menyebarkan berita kemerdekaan Indonesia, baik itu secara lokal maupun internasional.
Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, sore harinya Yusuf Ronodipuro menerima secarik kertas dari rekannya di Kantor Berita Domei berisi permintaan Adam Malik untuk menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan.
Yusuf Ronodipuro bersama rekannya, Bahtar Lubis kemudian secara tidak sengaja menyelinap ke dalam studio siaran luar negeri.
Tepat pukul tujuh malam, Yusuf Ronodipuro menyampaikan Proklamasi Kemerdekaan ke seluruh Nusantara dan dunia. Guna menghindari kecurigaan Kempetai, siaran tetap berjalan seperti biasa, tetapi kabelnya tidak diteruskan ke pemancar.
Setelah siaran selesai, kedua tokoh tersebut bersikap seperti biasa, seolah tidak terjadi sesuatu. Namun, sesaat kemudian, tentara Kempetai memasuki ruangan Yusuf Ronodipuro dan Bahtar Lubis.
Kempetai pun sangat marah dan melakukan penyerangan fisik sehingga dua tokoh tersebut nyaris terbunuh. Namun, kondisi itu tidak menyurutkan semangat Yusuf Ronodipuro dalam menyebarkan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Demikian jelas bahwa tanggapan orang Jepang terhadap penyebaran berita kemerdekaan Indonesia adalah tidak suka. Hal itu terlihat dari serangan Kempetai kepada Yusuf Ronodipuro beserta rekannya, Bahtar Lubis. (AA)
