Teori Penyimpangan Sosial Lengkap dengan Bentuk Perilakunya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada banyak sekali teori penyimpangan sosial yang ada di Indonesia lengkap dengan bentuk perilakunya. Namun, hingga saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang belum paham dengan penyimpangan tersebut.
Penyimpangan sosial sendiri termasuk perilaku menyimpang dan dianggap sebagai hal tercela yang sudah di luar batas toleransi. Perilaku menyimpang bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga merugikan banyak orang lain di sekitar.
Beberapa orang memang mengetahui hal ini, namun masih saja melakukan berbagai perilaku menyimpang. Apakah kamu tahu tentang teori dari penyimpangan sosial? Jika belum, langsung saja simak penjelasan berikut ini.
Teori Penyimpangan Sosial
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, penyimpangan sosial diartikan sebagai suatu tingkah laku atau perbuatan oleh individu yang bertentangan dengan norma dan hukum yang berlaku di lingkungan tersebut.
Dikutip dari Buku Sosiologi SMP/MTs Kls VIII (KTSP) karya Mulat Wigati Abdullah, ini dia berbagai teori penyimpangan sosial, antara lain:
1. Teori Pergaulan Berbeda
Teori yang pertama adalah teori yang dikemukakan oleh Edwin H. Sutherland yang bernama teori pergaulan bebas. Ini adalah bentuk perilaku menyimpang yang dipelajari melalui proses alih budaya atau transmisi budaya.
Contoh perilakunya, seperti peminum minuman beralkohol, homoseksual, dan lain sebagainya.
2. Teori Julukan atau Cap (Teori Pelabelan)
Teori Julukan atau Cap adalah teori yang dikemukakan oleh Edwin M. Lemert. Ia menyatakan bahwa penyimpangan sosial bisa terjadi karena adanya julukan, label, atau cap yang diberikan kepada pelaku penyimpangan.
Proses penjulukan ini biasanya terjadi setelah seseorang melakukan penyimpangan pada tahap awal.
3. Teori Anomi
Teori Anomi merupakan perilaku menyimpang yang terjadi akibat dari adanya ketegangan dalam meraih posisi yang diharapkan dalam masyarakat.
Menurut teori ini, individu akan memiliki kewajiban untuk memenuhi keinginan masyarakat, namun oleh individu tersebut justru dianggap sebagai tekanan dalam hidup.
Perilaku ini seperti tuntutan dari masyarakat yang mengharuskan suatu individu untuk berperilaku sesuai dengan pemikiran umum masyarakat.
4. Teori Merton
Teori yang dikemukakan oleh Robert K. Merton ini menyatakan bahwa perilaku menyimpang adalah bentuk adaptasi perilaku terhadap situasi tertentu.
Dalam teori ini, disebutkan bahwa terdapat 5 cara beradaptasi terhadap situasi tertentu yang juga termasuk perilaku yang menyimpang, di antaranya:
Konformitas (perilaku individu mengikuti tujuan dan cara yang ditentukan oleh masyarakat di mana bersifat konvensional dan melembaga).
Inovasi (perilaku individu mengikuti tujuan yang ditentukan oleh masyarakat, namun menggunakan cara-cara yang dilarang).
Ritualisme (perilaku individu bersifat seremonial atau tetap menjalankan cara-cara yang telah ditentukan oleh masyarakat, namun tidak memaknainya).
Pengunduran atau pengasingan diri (perilaku individu yang tidak sesuai dengan tujuan atau pun cara-cara yang ditentukan oleh masyarakat).
Pemberontakan (perilaku individu yang menyimpang dari tujuan dan cara-cara yang berlaku umum).
Contoh perilakunya adalah hal-hal yang dilakukan oleh para pemberontak, baik secara individu maupun secara kelompok.
5. Teori Fungsi Durkheim
Teori ini merupakan teori terakhir dan dikemukakan oleh Emile Durkheim. Ia menyatakan bahwa faktor penyebab terjadinya perilaku menyimpang adalah keturunan dan perbedaan lingkungan fisik maupun sosial.
Menurut Durkheim, kejahatan akan selalu ada karena orang yang berwatak jahat juga akan selalu ada.
Sekarang, kamu jadi tahu apa saja teori penyimpangan sosial di Indonesia yang lengkap dengan contoh perilaku penyimpangannya. Jika sudah, maka yang perlu kamu lakukan adalah menjaga diri sendiri agar tidak sampai melakukan penyimpangan tersebut. (DSI)
