Konten dari Pengguna

Tradisi Bau Nyale Khas Suku Sasak di Lombok

Sejarah dan Sosial
Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
17 Juni 2024 20:33 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi tradisi bau nyale. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tradisi bau nyale. Foto: Pexels
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Tidak pernah habis membahas kekayaan budaya di Indonesia, salah satunya adalah tradisi Bau Nyale yang dilakukan oleh Suku Sasak ini.
ADVERTISEMENT
Artikel berikut akan membahas lebih dalam tentang tradisi Bau Nyale yang merupakan bentuk multikulturalisme pertemuan budaya Hindu dan Muslim.

Tradisi Bau Nyale

Ilustrasi tradisi bau nyale. Foto: Pexels
Tradisi Bau Nyale adalah sebuah perayaan budaya yang dilakukan oleh masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Dalam buku Pendidikan Toleransi Sasak Muslim Bali Hindu di Kota Mataram oleh Lalu Khothibul, Bau Nyale berasal dari bahasa Sasak, yakni bau artinya tangkap dan nyale adalah sebutan untuk sejenis cacing laut.
Perayaan ini dilakukan untuk menangkap cacing laut yang muncul di pantai tertentu pada waktu-waktu tertentu dalam setahun, biasanya sekitar bulan Februari atau Maret menurut kalender Sasak.
Bau Nyale biasanya berlangsung pada waktu subuh di pantai tertentu di Lombok, seperti Pantai Seger di Kuta, Lombok Tengah, dengan mempertimbangkan siklus bulan dan pasang surut laut.
ADVERTISEMENT
Tradisi menangkap cacing laut merupakan kegiatan yang menyuguhkan budaya suku Sasak. Tradisi ini berawal dari legenda lokal dari seseorang bernama Putri Mandalika.
Menurut kepercayaan masyarakat Lombok, nyale adalah titisan Putri Mandalika yang digambarkan sebagai putri cantik yang memiliki akhlak yang luhur.
Karena kecantikan dan karakternya, maka banyak raja dan pangeran yang jatuh cinta padanya. Sang putri pun lebih memilih mengorbankan dirinya dengan melompat dirinya ke laut dan berubahlah menjadi Nyale yang berwarna-warni.
Oleh karena itu, sebagian masyarakat di Lombok percaya bahwa Nyale bukan sekedar cacing laut biasa melainkan makhluk yang dipercaya dapat membawa kemakmuran bagi yang bisa menangkap dan memakannya.
Jenis cacing laut yang ditangkap termasuk cacing yang tergolong dalam jenis filum annelida. Tradisi ini dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Sasak.
ADVERTISEMENT
Tradisi Bau Nyale telah menjadi festival resmi oleh Kementerian Pariwisata. Masyarakat mencoba menangkap cacing laut di pantai dengan pasir putih dan air laut yang jernih, menambah semarak suasana pantai.
Secara keseluruhan, tradisi Bau Nyale merupakan perpaduan antara warisan budaya, kepercayaan lokal, dan kegiatan sosial yang memperkuat rasa kebersamaan di kalangan masyarakat Lombok. (SP)