Tradisi Mubeng Beteng untuk Menyambut Tahun Baru Islam

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mubeng Beteng adalah tradisi khas Keraton Yogyakarta yang biasanya diselenggarakan pada malam 1 Suro berdasarkan kalender Jawa atau memasuki tahun baru Islam. Tradisi ini adalah budaya turun-temurun yang dilaksanakan oleh keluarga keraton dengan mengelilingi benteng.
Hayati dalam Makna Tradisi Ziarah dan Ritual Mubeng Beteng di Makam Raja-raja Imogiri, Yogyakarta menjelaskan bahwa tradisi Mubeng Beteng tergolong sebagai tradisi yang menggambarkan keadaan sosial dari masyarakat di kawasan Keraton Yogyakarta.
Jika ingin tahu tentang tradisi Mubeng Beteng, simak selengkapnya dalam bacaan berikut.
Sejarah Tradisi Mubeng Beteng
Sejarah Mubeng Beteng diperkirakan telah mulai dari masa Sultan Hamengkubuwono II yang menjabat selama tiga periode. Pada awalnya, tradisi ini tergolong sebagai upacara resmi bagi Keraton Yogyakarta yang pelaksanaannya atas perintah dari Sultan Hamengkubuwono dan dilakukan para abdi dalem.
Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi Mubeng Beteng berkembang menjadi upacara adat masyarakat Yogyakarta, sehingga bukan hanya diselenggarakan di keraton saja, tetapi juga dilakukan masyarakat lokal.
Makna Tradisi Mubeng Beteng
Mubeng Beteng dimaknai sebagai bagian dari tirakat lampah ratri, sebuah upaya dalam memperoleh ridha Allah SWT. Di samping itu, pelaksanaannya juga memperoleh inspirasi dari proses hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah menuju Madinah.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat serta abdi dalem akan mengitari benteng Keraton Yogyakarta tanpa menggunakan alas kaki serta tidak boleh berbicara. Bagi masyarakat setempat, Mubeng Beteng merupakan wujud perenungan serta refleksi masyarakat untuk memohon perlindungan kepada Tuhan dan menyucikan diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Untuk menyelenggarakan Mubeng Beteng, para peserta upacara akan mulai mengitari saat lonceng Kyai Brajanala dibunyikan 12 kali, lalu dilanjut dengan membacakan tembang Macapat, serta doa bersama. Jika sudah menunjukkan pukul 12 malam, peserta akan berjalan mengelilingi benteng berlawanan arah jarum jam.
Tujuan penyelenggaraan Mubeng Beteng bukan hanya untuk menyambut tahun baru Islam, tetapi juga refleksi diri atas perbuatan selama satu tahun agar diperbaiki di tahun berikutnya.
Itulah informasi penting tentang tradisi Mubeng Beteng khas Keraton Yogyakarta yang perlu dipahami. [ENF]
